Memahami Sifat Manusia dalam Kearifan Hidup Bal Orang Bali memiliki sebuah ungkapan yang sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam: ngelah rasa, ngelah tatwam asi, nanging tusing dadi polos. Memiliki rasa, memiliki kasih sayang kepada sesama, tetapi jangan sampai kehilangan kebijaksanaan. Sejak kecil, kita diajarkan untuk hidup dalam semangat Tri Hita Karana , menjaga keharmonisan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Kita diajarkan saling membantu dalam suka maupun duka, bergotong royong saat ada upacara, menghadiri undangan tetangga, serta ikut ngayah tanpa mengharapkan imbalan. Nilai-nilai itu adalah warisan yang sangat luhur. Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa tidak semua orang memiliki hati yang sama. Ada yang menghargai ketulusan, tetapi ada pula yang melihat kebaikan sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan. Karena itulah, menjadi orang Bali yang baik bukan berarti menjadi orang yang mudah dimanfaatkan. Lontar-lontar Hindu di Bali ti...
Kesadaran: Titik Awal dari Setiap Perubahan oleh :Ibn.Semara M, Jika ada satu kata yang menjadi inti dari seluruh proses menata diri, maka kata itu adalah kesadaran . Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi sedikit yang benar-benar bersedia mengubah cara berpikirnya. Kita sering berharap keadaan menjadi lebih baik, hubungan menjadi lebih harmonis, pekerjaan menjadi lebih menyenangkan, atau lingkungan menjadi lebih mendukung. Namun, tanpa disadari, kita masih membawa pola pikir, kebiasaan, dan cara bereaksi yang sama seperti sebelumnya. Perubahan hasil hampir selalu didahului oleh perubahan kesadaran. Kesadaran membuat seseorang berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa yang sebenarnya sedang diajarkan oleh pengalaman ini?" Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi mampu mengubah arah kehidupan. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, misalnya, ia memiliki dua pilihan. Ia dapat menganggap dirinya sebagai korban keadaan, atau menjadikan pen...