Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026 Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam sebuah ruang kelas matematika, tidak pernah ada guru yang bertanya, "Anak-anak, ayo jawab dengan jujur, berapa lima tambah lima?" Pertanyaan itu terdengar konyol karena dalam sains dan logika, 5 + 5 = 10 bukan karena kita bersikap jujur, melainkan karena itu adalah faktual. Sains tidak butuh kejujuran moral; ia hanya butuh kebenaran objektif. Itulah sifat sains: ia apa adanya. Sains Adalah Amoral: Dunia Tanpa Penghakiman Sains, pada intinya, adalah upaya manusia untuk memotret realitas tanpa melibatkan perasaan. Alam semesta bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat atau konsekuensi, bukan berdasarkan norma "baik" atau "buruk". Ambil contoh harimau yang memangsa kambing. Secara sains, yang terjadi hanyalah transfer energi biologis demi kelangsungan hidup. Tidak ada yang "jahat" dalam kejadian itu. Harimau tid...
Menemukan Nurani dalam Adat: Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Kematian sejatinya bukan peristiwa yang mengotori kehidupan, melainkan bagian paling jujur dari kehidupan itu sendiri. Ketika seorang manusia mengembuskan napas terakhir, yang tersisa bukanlah cemar, melainkan sebuah raga yang telah menyelesaikan tugas baktinya di dunia. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali nurani berhadapan dengan tembok adat yang menegang. Seolah-olah kematian adalah sebuah "noda" yang harus segera dijauhkan agar kesucian sebuah ritual atau yadnya tidak terusik. Padahal, jika kita merenung dengan jernih, yadnya justru lahir untuk memuliakan kehidupan, bukan untuk menyingkirkan kemanusiaan. Kesetaraan dalam Pandangan Tat Twam Asi Sering terjadi ketimpangan rasa ketika kita memandang kematian. Di satu sisi, adat begitu keras menjaga jarak dengan jenazah manusia karena dianggap membawa kekotoran ( cemer ). Namun di si...