Membaca Getaran Alam: Antara Tirta, Gangga, dan Rahasia Bulan Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Pernahkah kita merasakan suasana hati yang tiba-tiba menjadi teduh ketika rembulan Purnama terbit perlahan di ufuk timur? Ada ketenangan yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh logika, seolah batin disentuh oleh keindahan suci, Sundaram , yang datang tanpa suara sebagai resonansi antara air dalam diri dan cahaya di langit. Sebaliknya, saat Tilem tiba, banyak orang merasakan kehampaan yang halus, seperti titik nol di mana arus energi batin berhenti sejenak; bukan untuk mati, melainkan untuk kembali disusun oleh alam. Fenomena ini bukan sekadar romantika langit. Tubuh manusia sebagian besar tersusun dari elemen air, dan air selalu merespons gravitasi bulan. Pasang surut tidak hanya terjadi di samudra, tetapi juga di dalam sel-sel tubuh kita. Jiwa manusia ikut berdenyut mengikuti ritme kosmik. Maka ketika leluhur kita menempatkan air sebagai pusat spiritualitas, mereka se...
Refleksi Kesadaran: Menelusuri Jejak Jiwa Melalui Hipotesis Kuantum dan Ritme Kosmik 2026 Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba "Sains dan spiritualitas bertemu bukan dalam klaim fisik yang kaku, melainkan dalam korespondensi makna." Pendahuluan Pertanyaan mengenai hakikat kematian selalu menjadi misteri terbesar manusia. Dalam perspektif spiritual, kematian sering dipahami sebagai perubahan keadaan kesadaran, sementara sains modern mulai membuka kemungkinan bahwa kesadaran tidak sepenuhnya tereduksi hanya pada mekanisme biologis semata. Salah satu pemikiran yang menjembatani kedua dunia ini adalah hipotesis Orch-OR ( Orchestrated Objective Reduction ). Mikrotubulus: Antena Metaforis Kesadaran Hipotesis Orch-OR, yang dikembangkan oleh fisikawan Roger Penrose bersama ahli anestesi Stuart Hameroff , mengusulkan bahwa kesadaran mungkin melibatkan proses kuantum di dalam mikrotubulus —struktur penyangga di dalam neuron sel otak. Meskipun hal...