Membaca Jejak Tuhan dalam Diri: Sebuah Refleksi Mewujud Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Pernahkah kita terdiam sejenak di hadapan sebongkah batu karang yang sunyi, atau menatap mata seorang manusia dengan penuh kesadaran, lalu bertanya dalam batin: Di manakah sesungguhnya batas antara aku, alam, dan Tuhan? Selama ini, kita kerap mewarisi gambaran Tuhan sebagai Pencipta yang jauh—seolah-olah Beliau berada di luar jagat raya, membuat dunia dari kejauhan, lalu membiarkannya berjalan sendiri. Ibarat seorang perajin yang membentuk bokor: setelah selesai dikerjakan, lalu dilepaskan begitu saja. Namun, kebijaksanaan luhur kita dalam Tattwa Jnana mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendalam: Tuhan tidak mencipta dengan jarak; Beliau mewujud dengan kehadiran. Sang Hyang Widhi tidak berdiri di luar alam semesta—Beliau meresapi, menjiwai, dan menjadi semesta itu sendiri. Antara Wujud dan Sejati Bayangkan sebuah patung yang diukir indah. Bagi mata awam, itu adalah Garuda. N...
Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026 Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam sebuah ruang kelas matematika, tidak pernah ada guru yang bertanya, "Anak-anak, ayo jawab dengan jujur, berapa lima tambah lima?" Pertanyaan itu terdengar konyol karena dalam sains dan logika, 5 + 5 = 10 bukan karena kita bersikap jujur, melainkan karena itu adalah faktual. Sains tidak butuh kejujuran moral; ia hanya butuh kebenaran objektif. Itulah sifat sains: ia apa adanya. Sains Adalah Amoral: Dunia Tanpa Penghakiman Sains, pada intinya, adalah upaya manusia untuk memotret realitas tanpa melibatkan perasaan. Alam semesta bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat atau konsekuensi, bukan berdasarkan norma "baik" atau "buruk". Ambil contoh harimau yang memangsa kambing. Secara sains, yang terjadi hanyalah transfer energi biologis demi kelangsungan hidup. Tidak ada yang "jahat" dalam kejadian itu. Harimau tid...