Menjaga Poros Semesta: Urgensi Sinkronisasi Tilem Kesanga 2026 Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Bali saat ini tidak sekadar menghadapi krisis ekologis, melainkan sebuah krisis sinkronisasi . Ketika manusia tidak lagi membaca langit secara presisi, maka keputusan ritual kehilangan titik acuannya. Jika dahulu alam menghadirkan letusan yang memberi kehidupan, hari ini alam justru memantulkan residu peradaban kita sendiri. Ketidakharmonisan ini adalah gejala deviasi antara sistem penanggalan manusia dan realitas astronomi. I. Tilem dalam Perspektif Astronomi: Konjungsi Geosentris Dalam astronomi, fase bulan mati ( new moon ) ditentukan oleh konjungsi geosentris , yaitu momen ketika Matahari dan Bulan memiliki bujur ekliptika yang sama (elongasi 0°). Berdasarkan data aplikasi pemantau fase bulan ( Moon Phases ), terlihat jelas bahwa pada 18 Maret 2026 , Bulan masih menyisakan fase sabit tua ( waning crescent ). Konjungsi sempurna di mana Bulan benar-benar berada ...
Rahasia Pura Uluwatu: Perspektif Siwa-Siddhanta & Jejak Dang Hyang Nirartha Di ujung selatan Pulau Bali, pada tebing karang yang menjulang tegak menghadap samudra tak berbatas, berdirilah Pura Uluwatu. Bagi banyak orang, ia adalah destinasi wisata kelas dunia. Namun bagi pencari batin, Uluwatu adalah penanda batas antara kesadaran manusia dan kemahaluasan alam. Di tempat inilah angin, laut, dan langit seakan bersepakat menjaga sebuah rahasia tua yang diwariskan oleh zaman. Dharmayatra dan Titik Sunyi Dang Hyang Nirartha Uluwatu tidak dapat dilepaskan dari perjalanan suci Dang Hyang Nirartha, Sang Resi Agung yang dalam tradisi Bali dikenal pula sebagai Ida Batara Sakti Wawu Rauh. Kedatangan beliau ke Bali pada abad ke-16 bukanlah perjalanan biasa, melainkan Dharmayatra: sebuah ziarah spiritual untuk menata kembali harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Dikisahkan, di tebing karang yang berhadapan langsung dengan kekuatan samudra inilah beliau merasakan bahwa perjal...