Langsung ke konten utama

Postingan

Watugunung dan Saraswati

Watugunung dan Saraswati: Perjalanan Pulang Menuju Cahaya Kesadaran ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Hari Suci Saraswati sering kali kita rayakan sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan. Namun, di balik kemeriahan ritualnya, tersimpan sebuah narasi besar yang menjadi cermin bagi jiwa manusia: Epos Watugunung. Kisah ini bukan sekadar dongeng tentang raja sakti yang tumbang, melainkan sebuah pengingat abadi tentang bagaimana manusia bisa kehilangan asal-usulnya justru di saat ia berada di puncak kejayaannya. ​Kegelapan di Balik Kesaktian ​Watugunung lahir dari persinggungan antara kekuatan alam dan ketidaksadaran. Lahir di atas batu besar yang terbelah, ia dianugerahi kesaktian luar biasa oleh Dewa Brahma. Ia tumbuh menjadi sosok yang tak tertandingi—kuat, perkasa, dan berkuasa. Namun, sebagaimana perjalanan manusia pada umumnya, kekuatan yang tidak dibimbing oleh cahaya pengetahuan ( jnana ) sering kali melahirkan keterasingan. ​Dalam ketidaksadarannya yang m...
Postingan terbaru
  MENATA ULANG KALENDER SAKA BALI BERBASIS ASTRONOMI: MENEMUKAN KEMBALI TILEM KESANGA SEBAGAI TITIK KESELARASAN KOSMIS Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam perjalanan panjang peradaban Bali, kalender Saka bukan sekadar alat penanda waktu, melainkan cerminan cara manusia membaca kehendak semesta. Ia hidup, digunakan, diwariskan, dan diyakini sebagai pedoman dalam menjalankan berbagai yadnya. Namun sebagaimana segala sesuatu yang hidup, kalender pun tidak boleh berhenti pada bentuk statis. Ia harus diuji, diselaraskan, dan bila perlu direkonstruksi agar tetap sejalan dengan hukum alam yang menjadi sumbernya. Hari ini, kita berada pada sebuah titik refleksi. Perdebatan mengenai penentuan Hari Raya Nyepi menunjukkan bahwa terdapat ketidaksinkronan antara sistem wariga yang digunakan dengan fenomena astronomi yang nyata. Ada dua pandangan yang berkembang: satu yang menetapkan Nyepi pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, dan yang lain berpendapat bahwa Nyepi seharusnya jatuh tep...

Membaca Ulang Panglantala Kalender Bali: Transformasi dari Eka Sungsang ke Paing Menuju Eka Sungsang ke Umanis

REKONSTRUKSI MAKNA NYEPI DAN TITIK NOL KALENDER SAKA BALI Menempatkan Kembali Tilem Kesanga sebagai Pusat Keselarasan Kosmis  Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba I. Pendahuluan: Ketika Tradisi Perlu Bercermin Kalender Bali bukan sekadar sistem penanggalan, melainkan cara manusia membaca kehendak semesta. Ia lahir dari wariga—ilmu yang tidak berdiri di atas asumsi, tetapi pada pengamatan terhadap gerak kosmis. Namun, ketika praktik yang berjalan mulai menunjukkan ketidakselarasan dengan fenomena alam, maka evaluasi bukanlah bentuk penolakan terhadap tradisi, melainkan wujud bakti untuk meluruskan kembali arah. Dalam konteks inilah, dua hal mendasar perlu dikaji ulang secara bersamaan: Penempatan Hari Raya Nyepi Sistem Panglantaka yang digunakan (Eka Sungsang Ke Paing) II. Sasih Kesanga sebagai Titik Penutup Siklus Sasih Kesanga adalah fase akhir. Ia adalah ruang pelepasan, pemurnian, dan pengembalian seluruh unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya. ...