Menemukan Nurani dalam Adat: Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Kematian sejatinya bukan peristiwa yang mengotori kehidupan, melainkan bagian paling jujur dari kehidupan itu sendiri. Ketika seorang manusia mengembuskan napas terakhir, yang tersisa bukanlah cemar, melainkan sebuah raga yang telah menyelesaikan tugas baktinya di dunia. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali nurani berhadapan dengan tembok adat yang menegang. Seolah-olah kematian adalah sebuah "noda" yang harus segera dijauhkan agar kesucian sebuah ritual atau yadnya tidak terusik. Padahal, jika kita merenung dengan jernih, yadnya justru lahir untuk memuliakan kehidupan, bukan untuk menyingkirkan kemanusiaan. Kesetaraan dalam Pandangan Tat Twam Asi Sering terjadi ketimpangan rasa ketika kita memandang kematian. Di satu sisi, adat begitu keras menjaga jarak dengan jenazah manusia karena dianggap membawa kekotoran ( cemer ). Namun di si...
MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...