Ceciren Sasih Kawolu: Saat Alam Berbisik Melalui Angin dan Buah
"Sasih Kawolu tidak pernah sekadar musim. Ia adalah sajak alam yang ditulis dengan angin, diberi jeda oleh hujan, dan diberi makna oleh buah yang jatuh tanpa suara."
— Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba
Dalam kearifan lokal masyarakat Bali, penanggalan Sasih bukan sekadar angka yang berputar di atas kalender. Setiap sasih adalah bahasa semesta yang memiliki ciri khas atau ceciren tersendiri—sebuah tanda tangan alam yang bisa dibaca melalui perilaku tumbuhan, arah angin, hingga kedaulatan ritual yang dilaksanakan.
Salah satu yang paling menarik untuk diamati adalah Sasih Kawolu. Pada periode ini, alam Bali sedang berada dalam puncak ritmenya yang unik, di mana unsur air dan angin mendominasi jagat raya.
Kehadiran "Angin Baret" dan Tantangan Kesehatan
Salah satu ceciren utama dari Sasih Kawolu adalah munculnya Angin Baret. Dalam istilah meteorologi, ini adalah Angin Muson Barat yang membawa uap air melimpah. Namun bagi masyarakat Bali, Angin Baret adalah kekuatan Bayu yang menyapu daratan, membawa hujan, sekaligus menguji kekokohan pohon-pohon besar di teba maupun di hutan.
Embusan angin yang kencang dan cuaca yang lembap ini sering kali membawa tantangan bagi kesehatan tubuh, terutama risiko penyakit flu. Namun, alam semesta selalu menyediakan penawarnya tepat sebelum tantangan itu tiba.
Sirsak: Perisai Alami di Musim Angin
Pada Sasih Kawolu ini, terlihat tanaman Sirsak (Annona muricata) mulai berbuah dengan sangat lebat. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Buah sirsak dikenal memiliki kandungan Vitamin C yang sangat tinggi—mencapai tujuh kali lipat dibandingkan dengan buah jeruk.
Dengan mengonsumsi buah sirsak yang melimpah di sasih ini, masyarakat diharapkan memiliki daya tahan tubuh yang kuat agar tidak mudah terserang penyakit flu saat Angin Baret berembus keras.
Buah Boni dan Buah Wani
Kehadiran Buah Boni (Antidesma bunius) juga menjadi penanda penting. Pada Sasih Kawolu, Buah Boni mulai matang dan siap dipetik, karena ia merupakan sarana utama yang diperlukan untuk sesajen pada saat Tilem Kawolu.
Selain itu, sasih ini identik dengan musim Buah Wani (Mangifera caesia). Karena pohonnya yang raksasa, Angin Baretlah yang bertugas "memanen" Buah Wani yang sudah benar-benar matang di pohon dengan menjatuhkannya ke tanah. Pemandangan anak-anak yang mencari Buah Wani jatuh adalah pemandangan khas yang kita jumpai di sasih ini.
Hubungan Alam dan Ritual: Sayut Tipat
Kaitan antara fenomena alam dan ritual keagamaan terlihat jelas melalui tradisi Mesayut Tipat pada Tilem Kawolu. Ritual ini bersifat sangat personal karena jumlah ketupat (tipat) yang digunakan mengacu pada hari kelahiran (Weton) masing-masing orang berdasarkan Urip Pancawara-nya:
- Umanis: 5 buah ketupat.
- Paing: 9 buah ketupat.
- Pon: 7 buah ketupat.
- Wage: 4 buah ketupat.
- Kliwon: 8 buah ketupat.
Refleksi dan Penyelarasan Diri
Pengamatan terhadap ceciren alam ini—mulai dari lebatnya buah sirsak hingga tersedianya Buah Boni—mengajarkan kita tentang keselarasan hidup dengan Rta (hukum kosmik). Alam tidak pernah berbohong; ia menyediakan apa yang kita butuhkan untuk kesehatan dan ritual tepat pada waktunya. Melalui kearifan membaca tanda-tanda ini, kita diingatkan untuk selalu menyelaraskan diri dengan irama semesta yang suci.
24 Februari 2026