Membaca Getaran Alam: Antara Tirta, Gangga, dan Rahasia Bulan
Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba
Pernahkah kita merasakan suasana hati yang tiba-tiba menjadi teduh ketika rembulan Purnama terbit perlahan di ufuk timur? Ada ketenangan yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh logika, seolah batin disentuh oleh keindahan suci, Sundaram, yang datang tanpa suara sebagai resonansi antara air dalam diri dan cahaya di langit. Sebaliknya, saat Tilem tiba, banyak orang merasakan kehampaan yang halus, seperti titik nol di mana arus energi batin berhenti sejenak; bukan untuk mati, melainkan untuk kembali disusun oleh alam.
Fenomena ini bukan sekadar romantika langit. Tubuh manusia sebagian besar tersusun dari elemen air, dan air selalu merespons gravitasi bulan. Pasang surut tidak hanya terjadi di samudra, tetapi juga di dalam sel-sel tubuh kita. Jiwa manusia ikut berdenyut mengikuti ritme kosmik. Maka ketika leluhur kita menempatkan air sebagai pusat spiritualitas, mereka sesungguhnya sedang membaca sains alam melalui kepekaan batin, bukan menciptakan simbol tanpa makna.
Di tanah suci Bali, jalan ketuhanan disebut Agama Tirtha. Ini adalah kesadaran bahwa air adalah penghantar energi—sebuah antena yang mampu menangkap getaran yang tidak kasatmata. Air tidak hanya membersihkan fisik, tetapi menata ulang frekuensi kesadaran. Karena itulah tirta selalu hadir dalam setiap upacara, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai jembatan vibrasi antara manusia dan semesta.
Ketika kita merapalkan Puja Sapta Gangga, sesungguhnya kita tidak sedang memuja koordinat di peta dunia. Jika kita berhenti pada pemahaman geografis semata, kita akan kehilangan hakekatnya. Nama-nama itu adalah bahasa simbolik para Rsi, kode spiritual yang menunjuk pada tujuh arus energi di dalam tubuh manusia—tujuh pintu di mana manusia beresonansi dengan alam semesta.
Sungai di dunia fisik bisa saja tercemar oleh ketidaksadaran manusia, namun “Gangga” dalam mantra tetaplah murni, laksana cahaya matahari yang tidak ikut kotor meski menyinari tumpukan sampah. Getaran suci tidak terikat pada kondisi materi; ia hadir sebagai frekuensi yang melampaui lumpur maupun air yang keruh. Saat puja dilantunkan, yang terjadi sesungguhnya adalah penyelarasan. Manusia sedang menjemput vibrasi dari makrokosmos untuk menata ulang aliran di mikrokosmosnya. Dalam momen itu, air di tubuh kita menjadi resonator yang menerjemahkan bahasa langit ke dalam bahasa jiwa.
Lalu mengapa nama Gangga yang dipanggil, bukan nama sungai lokal? Pertanyaan ini muncul jika kita hanya melihat permukaan. Dalam logika spiritual, nama adalah frekuensi. Seperti radio yang harus disetel pada gelombang tertentu, para Rsi memilih kata yang telah selaras dengan pergerakan kosmik selama ribuan tahun. Gangga bukan sekadar sungai dalam pengertian geografis, melainkan kata kunci yang membuka pintu resonansi universal—nada dasar yang membuat seluruh instrumen batin kembali selaras.
Namun kearifan lokal Bali tidak pernah melupakan bumi tempat kita berpijak. Di bantaran sungai, di campuan, di tebing jurang tempat air mengalir, leluhur kita membangun pelinggih suci sebagai stana Dewi Gangga. Ini adalah pernyataan spiritual yang halus namun tegas: isi yang suci dapat hadir dalam wadah yang berbeda. Sungai-sungai di Bali seperti Sungai Ayung maupun Tukad Sangsang Bangli adalah tubuh fisik yang nyata, sementara pelinggih Dewi Gangga di tepiannya adalah pengingat bahwa di dalam air yang mengalir itu bersemayam jiwa dan energi suci yang universal.
Antara Pertiwi dan Akasa, antara sungai lokal dan mantra global, keduanya tidak untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan dalam harmoni. Seorang pencari hakekat tidak akan sibuk memperdebatkan riak di permukaan air; ia akan menyelam ke kedalaman. Pertentangan hanya muncul ketika manusia berhenti menyelam dan mulai menilai dari kejauhan.
Tugas kita bukan memilih salah satu, melainkan merawat keduanya: menjaga sungai di bumi agar tetap jernih sebagai stananing tirta, sekaligus menjaga aliran “Gangga” dalam batin agar tidak tersumbat oleh kesombongan dan ketidaksadaran. Ketika keduanya selaras, manusia tidak lagi sekadar hidup di alam, tetapi hidup bersama alam—mengikuti napas bulan, mengikuti irama semesta, dan akhirnya menyadari bahwa kesucian tidak pernah jauh. Ia mengalir di luar dan di dalam diri kita sekaligus.