Langsung ke konten utama

Pura Dang Kahyangan Geria Sakti Manuaba, Apuan Susut Bangli.

Cikal Bakal Berdirinya Pura Dang Kahyangan Geria Sakti Manuaba,, di Desa Apuan Bangli.

Pada  abad ke 18, di sisi utara desa Manuaba Tegallalang, sebuah pesraman tegak megah berdiri di atas bukit, menjadi tempat kediaman bagi seorang tokoh spiritual yang sangat dihormati, yaitu Ida Pedanda Sakti Manuaba. Keberadaan pesraman ini tidak hanya sebagai tempat tinggal bagi sang Pedanda, tetapi juga menjadi pusat kegiatan spiritual dan pembelajaran bagi masyarakat setempat.

Semuanya berawal dari sebuah keberhasilan besar yang diraih oleh Pedanda Sakti Manuaba. Beliau berhasil membangun sebuah bendungan yang mengubah wajah tanah tegalan menjadi lahan persawahan yang subur. Dari situlah, masyarakat Desa Manuaba, yang terdiri dari tujuh banjar, mulai merasakan kemajuan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Lahan persawahan yang subur memberikan hasil yang melimpah, meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan.

Pada suatu hari, di tengah kesibukannya membimbing masyarakat, Pedanda Sakti Manuaba merasa terpanggil untuk mengunjungi sepupunya yang tinggal di Puncak Manik, sebuah daerah indah di perbukitan Gianyar. Dengan langkah tegap, beliau memutuskan untuk berjalan kaki melewati desa Petak. Saat melintasi sungai yang memisahkan desa-desa tersebut, beliau terpesona oleh keindahan alam yang memukau di seberang sungai.

Ternyata, tempat yang dilihatnya adalah Desa Apuan, sebuah perbukitan kecil yang dikelilingi oleh aliran sungai dan hutan-hutan hijau. Suasana damai dan penuh keindahan membuat hati Pedanda Sakti Manuaba merasa nyaman. Kicauan burung-burung di sana seolah-olah menyambutnya dengan hangat, dan masyarakat Desa Apuan dengan penuh hormat mengadap beliau untuk meminta petunjuk spiritual dan bimbingan dalam mengatasi tantangan kehidupan mereka.

Melihat pola perumahan tradisional "Nabuan" atau Pondokan yang masih dominan di Desa Apuan, Pedanda Sakti Manuaba memberikan saran kepada penduduk setempat untuk membangun perumahan dengan pola "Jejer Wayang", serta mengembangkan lahan datar dan subur menjadi sawah menggunakan sistem Subak yang sudah terbukti efektif dan lahan yang kurang subur dijadikan tempat tinggal. Saran tersebut disambut dengan antusias oleh masyarakat dan pemimpin mereka, Gusti Ngurah Jelantik, seorang keturunan Raja Blahbatuh, bersama istrinya yang bernama Nini Pecuit. Dengan tekad dan kerja keras, mereka berhasil mencetak sawah-sawah baru yang subur.

Dengan bimbingan dan ajaran Pedanda Sakti Manuaba, Desa Apuan semakin berkembang dan maju. Untuk menghormati jasanya, masyarakat Desa Apuan membangun sebuah pura yang diberi nama "Pura Dangkahyangan Geria Sakti Manuaba", di tempat di mana sang pedanda pertama kali menapaki tanah Desa Apuan. Pura tersebut menjadi tempat suci yang menjadi sumber kebijaksanaan dan ketenangan bagi masyarakat sekitar, dan juga tempat pemujaan bagi Pedanda Sakti Manuaba yang dianggap sebagai guru loka susuhunan jagat, pemberi cahaya, dan petunjuk bagi mereka yang membutuhkan.

Ida Bagus Ngurah Semara M.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...