Langsung ke konten utama

Air, Spiritualitas, dan Krisis Kesadaran di Tengah Modernitas

Air, Spiritualitas, dan Krisis Kesadaran di Tengah Modernitas
Semara Manuaba IBN.
Ketika sumber mata air mulai mengering dan sungai-sungai tercemar limbah plastik, kita seharusnya bertanya: ke mana arah kesadaran kita terhadap alam? Dalam dunia yang terus mengejar modernitas, sering kali kita lupa bahwa air bukan hanya kebutuhan fisik, melainkan juga warisan spiritual.

Pada hakikatnya, banyak pejabat tampak menutup mata terhadap isu-isu lingkungan yang sangat mendesak. Konservasi mata air, pengelolaan limbah plastik, dan inovasi teknologi ramah lingkungan sering hanya menjadi slogan, tanpa implementasi yang nyata. Di sisi lain, kerusakan alam terus meluas—pelan tapi pasti, menggerus kehidupan kita.

Industri air kemasan juga belum sepenuhnya menunjukkan tanggung jawab ekologis. Pengambilan air tanah yang berlebihan tanpa memperhatikan ekosistem sekitar menjadi ancaman tersembunyi yang kian nyata. Sudah seharusnya ada komitmen bersama untuk mengambil air secara bijaksana, menghindari eksploitasi, dan mengedepankan kelestarian.

Namun, tanggung jawab menjaga air tidak hanya di tangan pemerintah atau industri. Kita, sebagai masyarakat, juga perlu mengurangi ketergantungan pada air kemasan. Kembali pada kearifan lokal, mengelola air secara mandiri, dan menghormati siklus air alami adalah bagian dari solusi yang sering terlupakan.

Dalam ajaran Hindu Bali, air (toya) memiliki makna suci. Ia tidak hanya menyucikan tubuh, tetapi juga jiwa. Air adalah perantara antara manusia, alam, dan Tuhan. Tirta digunakan dalam setiap upacara untuk memurnikan dan menghubungkan kehidupan dengan kesucian yang lebih tinggi. Maka menjaga air, sejatinya adalah menjaga keharmonisan semesta.

Modernitas dan tradisi tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa bersinergi bila diarahkan dengan kesadaran yang benar. Tradisi memberi makna; modernitas memberi alat. Jika keduanya berpadu dalam semangat dharma dan ekologi, kita bisa menempuh jalan baru yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Sudah saatnya kita keluar dari ketidaksadaran kolektif. Air bukan sekadar barang dagangan, tetapi inti dari kehidupan itu sendiri. Bila kita menjaga dan menghormatinya, air akan terus menjadi sumber berkah bagi kita dan generasi mendatang.
Rahayu...

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...