Langsung ke konten utama

Bukan Sekadar Lembut, Tetapi Berguna: Jalan Mulia Manusia Sejati

Bukan Sekadar Lembut, Tetapi Berguna: Jalan Mulia Manusia Sejati
Oleh: IBN. Semara Manuaba

Dalam semesta ini, manusia tidak dilahirkan hanya untuk menjadi hiasan dunia. Ia tidak hanya diberi tubuh untuk bergerak dan mulut untuk berkata manis, tetapi juga idep—pikiran yang mampu menimbang, menilai, dan memilih. Dalam ajaran Hindu Bali, manusia dibekali Bayu, Sabda, Idep—tiga kekuatan suci yang menjadikannya makhluk dengan potensi tertinggi. Maka, kehidupan manusia mestinya bukan tentang menjadi yang paling santun, tetapi yang paling berguna.

Terlalu lama kita memuja mereka yang disebut “orang baik”—santun sikapnya, halus ucapannya, tenang kehadirannya. Namun kebaikan yang hanya diam, yang tidak menyentuh penderitaan orang lain, tak ubahnya seperti dupa tanpa api: wangi, tetapi tidak pernah menyala.

Dalam Kidung Subudi, terdapat petikan:
“Aji ring awak ning lingsir, mungguh guna nira tan ngidang.”
Kebijaksanaan yang hanya disimpan dalam tubuh orang tua, jika tidak digunakan, tak memberi guna.

Petikan ini mengingatkan bahwa kebaikan, ilmu, bahkan kebajikan sekali pun, jika tidak diolah menjadi manfaat, hanyalah bayang-bayang mulia tanpa wujud nyata.

Orang yang berguna, meski tak selalu manis tutur katanya, akan dikenang dalam kesunyian oleh mereka yang pernah ditolongnya. Seperti tukang banten yang tak banyak bicara, namun tangannya terus menyusun bunga, janur, dan sari kehidupan untuk upacara yadnya. Seperti petani tua yang jarang mengeluh, tetapi sawahnya memberi makan banyak keluarga. Mereka tidak mengejar gelar, tidak butuh pujian, tetapi hidupnya menebar kemanfaatan.

Dalam kehidupan, kesantunan memang penting, tetapi kebergunaan jauh lebih utama. Santun hanya mengatur laku diri, tapi berguna menyentuh semesta.
Sebait kebaikan yang diwujudkan lebih suci daripada seribu kata manis yang hanya tinggal dalam pikiran.

Lontar Sarasamuscaya menulis:
Wruhhayā dharmam caritam, satatam sukham āpnuyāt.”
Orang yang mengetahui dan melaksanakan dharma (kebenaran) dengan sungguh-sungguh, akan mencapai kebahagiaan sejati.

Dharma bukan sekadar memahami, tetapi melaksanakan. Dan pelaksanaan dharma sejati adalah menjadi berguna: membangunkan semangat yang lelah, menyalakan cahaya di ruang yang redup, atau sekadar hadir ketika orang lain kehilangan harapan.

Bukan berarti kita harus menolak kelembutan. Tidak. Tetapi kelembutan hati harus diterjemahkan dalam gerakan nyata. Kesantunan yang tidak membumi hanya akan menjadi hiasan diri. Sementara semesta membutuhkan tangan-tangan yang bersedia mengangkat, membangun, dan menyembuhkan.

Manusia yang berguna adalah seperti tirtha—air suci. Ia tidak memamerkan dirinya, tapi kehadirannya menyucikan, menenangkan, menyembuhkan.
Tak perlu menjadi cahaya terang untuk semua orang. Cukup menjadi api kecil yang menghangatkan satu hati yang beku.
Dan itulah kemuliaan manusia sejati.

Postingan Populer

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu. ​Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening ​Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian . Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci: ​ “Mwah ri tekaning Tilĕming Kasangha, tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur, mwang Nyĕpi sadintĕn.” ​Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tilem...

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...