Langsung ke konten utama

UPACARA NGUNGGAHANG DEWA PITARA ATAU NILAPATI

UPACARA NGUNGGAHANG DEWA PITARA ATAU NILAPATI

Nara sumber: Ida Pedanda Gede Mandara Putra Kekeran.

leh: Ida Bagus Ngurah Semara M.


Upacara Nilapati atau ngunggahang Dewa Pitara ke Sanggah Kemulan merupakan kelanjutan dari pelaksanaan upacara penganyutan. Yang dihanyutkan dalam upacara tersebut adalah taulan atau abu jasadnya, bukan Panca Maha Bhuta-nya. Panca Maha Bhuta telah disucikan pada proses penyucian terakhir melalui pelaksanaan upacara pemukuran. Dengan demikian, kesucian dan kemurniannya telah kembali seperti semula.

Ditinjau dari sudut Tattwa (Prakerthi Tattwa), Panca Maha Bhuta telah mengalami transformasi sifat menjadi Panca Tan Matra, lalu menjadi Tri Guna, kemudian menjadi unsur Budhi. Dalam pelaksanaan upacara pemukuran atau penyekahan, unsur Budhi diproses menjadi Mahat. Proses penyucian ini dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara Nilapati, di mana unsur Mahat kembali menyatu menjadi kekuatan Sang Hyang Prakerti.

Perubahan ini tergambar dari transformasi bentuk Puspa Lingga atau Sekah menjadi bentuk Daksina Pelinggih. Dengan demikian, setelah melalui beberapa tahapan penyucian, dari jenazah menjadi Daksina Pelinggih, maka Panca Maha Bhuta telah ditingkatkan kesuciannya menjadi Sang Hyang Prakerti. Proses inilah yang disebut Ngunggahang Bethara Hyang (Dewa Pitara). Oleh karena itu, pelaksanaan upacara Nilapati memerlukan persiapan upakara sebagai berikut:

UPAKARANYA

Apabila upacara dilaksanakan oleh seorang Sulinggih, maka persiapan upakara sebagai berikut:

a. Upakara Munggah di Sanggah Surya
- Daksina gede sarwa 4, peras, soda, suci, pejati asoroh
- Banten Ardhanareswari
- Rayunan perangkat meulam olahan suci

b. Upakara Dihadapan Sanggah Surya (di bawah)
- Caru ayam brumbun


Upakara Munggah di Kemulan (pada masing-masing rong munggah):
- Pejati, suci asoroh
- Ajuman putih kuning
- Canang pesucian

c. Upakara Ayaban ke Hadapan Bethara Hyang Guru
- Daksina gede sarwa 4, peras, soda, suci
- Banten ayaban tumpeng 21 bungkul
- Banten pulegembel, Banten saji Dewa Tarpana
- Sesayut Amertha Dewa, Sesayut Siwa Sampurna, Sesayut Puspa Dewa
- Sesayut Pebersihan, Sesayut Sidapurna, Sesayut Sidakarya
- Banten jejauman alit, Banten pedudusan alit
- Pengulapan, prayascita, bayekawonan

d. Upakara Dihadapan Daksina Pelinggih (Hyang Pitara)
- Pejati, suci
- Saji tarpana
- Ajuman putih kuning
- Pesucian dan rantasan putih kuning

TATACARA PELAKSANAANNYA

Sesampainya dari segara dan tiba di lebuh (pintu gerbang), keluarga di rumah menghaturkan segehan di lebuh di hadapan yang mengusung Daksina Pelinggih. Kemudian langsung menuju pemerajan, dan Daksina tersebut distanakan (dilinggihkan) di piasannya.

Selanjutnya, pemimpin upacara menyelesaikan upacara penilapatian hingga tuntas. Setelah itu, sanak keluarga mengusung Daksina tersebut lengkap dengan penuntunnya, berjalan mengelilingi Sanggah Kemulan searah jarum jam (purwa daksina) sebanyak tiga kali. Saat berada di depan pelinggih, Daksina diayabkan ke arah rong kanan (dari sisi pengusung, bukan dari sisi pelinggih) untuk laki-laki, dan ke rong kiri untuk perempuan, disertai dengan tetabuhan.

Setelah proses mepurwa daksina selesai, sarana-sarana dari Daksina Pelinggih dibakar di atas dulang tanah atau sesenden di hadapan Sanggah Surya. Abu yang dihasilkan digerus (uyeg) dan disiram dengan tirtha pemralinan. Setelah rata, sanak keluarga melakukan macecedek pada selaning lelata.

Abu yang telah digerus kemudian dimasukkan ke dalam bungkak kelapa gading yang telah dibuang airnya. Di dalam bungkak dituliskan aksara suci Ongkara Mula (tanpa tedong), serta dimasukkan kwangen berisi 11 kepeng pis bolong. Bungkak ditutup, dibungkus kain putih, diikat, dan ditempel kwangen sebagai mukanya. Bungkak tersebut kemudian ditanam di belakang pelinggih kemulan, menandai selesainya upacara Nilapati.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...