Langsung ke konten utama

Banten: Jembatan Simbolik Antara Pikiran dan Tuhan dalam Hindu Bali

 

Banten: Jembatan Simbolik Antara Pikiran Manusia dan Tuhan dalam Hindu Bali

Oleh : Ida bagus Ngurah Semara Manuaba

1. Manusia dan Keterbatasan Pikiran

Pikiran manusia tidak dapat mengenali sesuatu yang sepenuhnya tanpa bentuk.
Waktu menjadi nyata ketika kita melihat jarum jam atau kalender.
Cinta terasa melalui pelukan, tatapan, atau pengorbanan.
Keadilan dipahami lewat timbangan yang seimbang.
Kebebasan terasa kuat ketika kita melihat gerbang terbuka.

Begitu pula dengan Tuhan.
Tanpa mantra, nama suci, arca, atau tempat suci, Ia mudah terjebak dalam abstraksi yang sulit dijangkau oleh pikiran.
Bukan karena Tuhan terbatas pada bentuk,
tetapi karena kitalah yang terbatas.
Nama dan bentuk adalah jembatan, bukan belenggu.

2. Tuhan dalam Bentuk: Saguna Brahman

Hindu mengenal konsep Saguna Brahman—Tuhan yang mengambil bentuk agar dapat dirasakan.
Siwa, Vishnu, Durga, Ganesha bukan sekadar tokoh mitologis, melainkan wujud-wujud yang membantu pikiran manusia memusatkan bhakti.
Ketika kita menyebut nama Siwa, pikiran memunculkan gambaran gunung, meditasi, dan keheningan.
Saat kita melihat arca, hati tergetar karena bentuk itu mampu berbicara lebih dari seribu kata.

Dalam psikologi modern, ini disebut representasi simbolik: makna diwujudkan melalui bentuk visual, suara, aroma, dan sentuhan.
Bentuk ini bekerja seperti tangga: kita mulai dari simbol, lalu naik menuju pemahaman yang melampaui bentuk itu sendiri.

3. Banten: Bahasa Visual dan Sensorik dalam Hindu Bali

Dalam tradisi Hindu Bali, banten adalah salah satu bentuk simbolik yang paling kaya makna.
Bukan hanya persembahan fisik, banten adalah bahasa visual dan sensorik yang menghubungkan manusia dengan yang Ilahi.

Setiap unsur banten memiliki arti:

  • Janur melambangkan kesucian hati yang lentur dan siap dibentuk.

  • Bunga melambangkan keharuman dan keindahan budi.

  • Warna putih untuk kesucian, merah untuk energi, kuning untuk kemakmuran, hijau untuk kesuburan.

  • Buah dan biji-bijian melambangkan hasil karma dan kelimpahan alam.

Ketika banten disusun dengan rapi, pikiran ikut tertata, hati menjadi teduh, dan doa menjadi lebih terarah.

4. Fungsi Banten sebagai Jembatan Spiritual

Banten bekerja seperti peta rohani.
Proses menyiapkannya mengajarkan keteraturan, kesabaran, dan keharmonisan—persis seperti kita menata hidup agar selaras dengan dharma.
Seperti arca yang memberi bentuk pada yang tak berbentuk,
banten memberi wujud pada rasa syukur, doa, dan bhakti.

Lewat banten:

  • Yang abstrak menjadi konkret.

  • Yang tak kasat mata menjadi dapat dilihat, disentuh, dan dihirup aromanya.

  • Emosi dan pikiran diarahkan menuju kesadaran yang lebih tinggi.

5. Dari Bentuk Menuju Kesadaran Murni

Pada akhirnya, banten hanyalah gerbang awal.
Ketika makna dan tujuannya telah meresap, kita akan melampaui bentuk itu dan mencapai inti—kesadaran murni, hubungan langsung dengan Sang Hyang Widhi tanpa perantara.

Bentuk dilepaskan bukan karena ditolak,
tetapi karena sudah mengantarkan kita pada tujuan.
Banten, dengan segala keindahan dan simbolismenya, adalah jembatan dari dunia bentuk menuju dunia tanpa bentuk—
dari janur dan bunga menuju kesunyian batin.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud