Langsung ke konten utama

Banten Peras.

Banten Peras: Simbol Purusa dan Aliran Panca Sakti dalam Kehidupan
Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara
Di atas taladan, persembahan itu tertata rapi, seperti alam semesta mini yang berbisik lembut. Taladan, segi empat panjang yang disebut catur loka, bukan sekadar alas, tetapi cermin kosmos. Empat penjuru hadir di setiap sudutnya, mengingatkan bahwa Sang Hyang Widhi ada dalam setiap napas, detak hati, dan langkah manusia.

Banten Peras bukan sekadar janur dan jajan. Ia adalah mikrokosmos yang tertata, mengajarkan manusia tentang hubungan antara Tuhan, alam, dan dirinya sendiri. Lebih dari itu, Banten Peras adalah simbol Purusa, roh yang menghidupkan tubuh, pikiran, dan hati manusia. Setiap elemen menjadi suara Purusa, menuntun manusia memahami diri, semesta, dan Tuhan.

Fondasi dari persembahan ini adalah Tri Jñāna Sakti—tiga kerangka utama agama Hindu: Tattwa, Etika, dan Upacara. Tattwa adalah prinsip kosmik, kebenaran universal yang mengikat seluruh ciptaan. Etika adalah jalan hidup yang menuntun perilaku selaras dengan alam dan sesama. Upacara adalah praktik yang menyelaraskan manusia dengan alam dan Sang Hyang Widhi.

Dari fondasi ini lahirlah Panca Sakti, lima kekuatan manusia yang diwujudkan dalam Sampian Peras. Bayu, energi yang mengalir menggerakkan jasad dan semesta. Sabda, kata dan suara yang membangun jembatan antara manusia dan Tuhan. Idep, pikiran yang menuntun langkah. Cita, pengalaman batin yang memberi arah. Rasa, kehalusan jiwa yang menyeimbangkan tindakan dan energi. Lima reringitan ini seperti lima sungai energi yang mengalir menuju samudra kesadaran, menuntun manusia hidup selaras dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi.

Di samping kulit peras, sampian metangge tertata, menjadi jembatan antara bumi dan langit, dasar dan puncak. Bentuknya simetris, menandai Catur Yoga—bhakti, jnana, karma, dan raja yoga. Empat titik lidi yang menghubungkan dasar dan ujung sampian mengingatkan bahwa setiap tindakan sekala mempengaruhi niskala, dan setiap niat niskala mengalir ke dunia nyata.

Di sisi lain, tiga kojong rangkad tertata rapi, melambangkan Triguna—satwam, rajas, dan tamas—serta lima unsur kehidupan. Kojong kanan berisi sambal dan garam, simbol tamas, keteguhan menghadapi dunia. Kojong tengah berisi ikan, telur, kacang, dan saur, simbol rajas, energi, aktivitas, dan berkah alam. Kojong kiri berisi timun dan tuung, simbol satwam, kesucian, ketenangan, dan kebijaksanaan hati. Ketiga kojong mengajarkan bahwa hidup manusia adalah perpaduan tiga sifat yang selaras ketika Panca Sakti dijalankan dalam diri.

Simbol lain pun sarat makna. Jajan begine merah-putih adalah doa persatuan roh (Purusa) dan raga (Prakerti). Jajan uli merah-putih adalah permohonan kedamaian sekala dan niskala. Tebu adalah aliran amerta, energi kehidupan yang menyegarkan tubuh dan jiwa. Buah-buahan adalah pengingat karma phala, bahwa setiap tindakan membuahkan hasil. Porosan adalah silih asih, menumbuhkan harmoni antara manusia, makhluk hidup, dan Tuhan.

Yang paling menonjol adalah dua tumpeng yang tertata di puncak Banten Peras, bagaikan gunung kosmik. Tumpeng pertama menjadi poros alam sekala, menuntun manusia memahami dunia nyata—jasad, aktivitas, dan tindakan. Tumpeng kedua menjadi poros alam niskala, menyatukan niat, doa, dan energi spiritual ke hadapan Sang Hyang Widhi. Dua tumpeng ini menghubungkan bumi dan langit, sekala dan niskala, manusia dan Tuhan, menegaskan keseimbangan kosmik yang harus dijaga setiap insan.

Banten Peras adalah pelajaran hidup yang mengalir dan bernapas. Ia berbicara melalui bentuk, warna, dan susunan. Setiap napas, langkah, ucapan, dan perasaan bisa menjadi yadnya, persembahan kesadaran. Dengan Sampian Peras, kojong rangkad Triguna, dan dua tumpeng, manusia belajar menyeimbangkan energi, ketenangan, dan disiplin spiritual.

Seperti Banten Peras yang tertata, manusia pun menata diri, mengalir selaras dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi. Setiap gerak, kata, dan pikiran adalah kesempatan untuk berbakti, menebar kebaikan, dan menumbuhkan harmoni.

Banten Peras adalah simbol Purusa: melihatnya adalah memahami diri, merasakannya adalah menanam harmoni di hati, menghormatinya adalah berbakti dengan tindakan nyata. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar kesibukan semata, tetapi keselarasan, kesadaran, dan kebermaknaan, menyatu seperti aliran sungai energi yang tak pernah berhent

Postingan Populer

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu. ​Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening ​Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian . Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci: ​ “Mwah ri tekaning Tilĕming Kasangha, tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur, mwang Nyĕpi sadintĕn.” ​Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tilem...

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...