Langsung ke konten utama

Banten Pisang Jati Pada Upacara Pengabenan

Banten Pisang Jati pada Upacara Pengabenan

 IBN. 2004

(Makna Simbolik, Filosofis, dan Rujukan Sastra)

Upacara Pitra Yadnya, khususnya Ngaben, merupakan jalan suci untuk mengantar atma (roh) kembali ke asalnya. Setiap perlengkapan yang dipakai dalam rangkaian ini memiliki makna simbolis yang dalam, bukan sekadar hiasan ritual. Salah satu sarana penting adalah Pisang Jati, atau yang dalam lontar disebut Adegan.

Pisang Jati bukan hanya pohon pisang yang diletakkan di hulu sawa, tetapi perwujudan tattwa tentang tubuh, swadharma, dan pelepasan roh. Dalam Yama Purwwa Tattwa dijelaskan bahwa Adegan adalah tempat berstana sementara Panca Mahabhuta dari orang yang telah meninggal, sehingga ia menjadi simbol kehidupan manusia itu sendiri.

Pisang Jati selalu dipersembahkan bersama banten tetukon. Dalam lontar Tuturan Gong Besi disebutkan:

“Sang atma mwang sarira, asalipun ring panca mahabhuta, ikang sarira mapulang ring asalnya, atma lumaris ring swargaloka.”
(Atma dan tubuh berasal dari Panca Mahabhuta; tubuh akan kembali ke asalnya, atma melanjutkan perjalanan menuju swarga loka).

Dengan demikian, Pisang Jati hadir sebagai upakarana saksi bahwa tubuh jasmani hanyalah titipan unsur alam yang akan kembali melebur setelah kematian.

Seluruh bagian pohon pisang melambangkan unsur-unsur manusia:

  • Batang = prana (daya hidup).
  • Daun = napas dan perlindungan.
  • Buah = hasil karma phala.
  • Akar = asal-usul, leluhur.

Makna ini sejalan dengan ajaran dalam Bhuwana Tattwa yang menyatakan:

“Panca prana ngaran ika, hana ring sarira, hana ring jagat.”
(Panca prana itu ada pada tubuh, ada pula pada jagat).

Dengan kata lain, manusia adalah miniatur jagat, dan pisang jati menjadi cermin tubuh manusia yang lahir dari unsur semesta.

Dalam Yama Purwwa Tattwa dijelaskan:

“Adegan ngaranya  sang marana, stana ring panca mahabhuta, pinaka upakarana ring pitra yadnya.”
(Adegan adalah perwujudan orang yang meninggal, tempat berstana Panca Mahabhuta, menjadi sarana utama dalam Pitra Yadnya).

Adegan disusun dari ortenan daun rontal yang dihiasi, lengkap dengan rambut. Pada ortenan ditancapkan lukisan orang-orangan dari kayu cendana atau majegau, dan di hadapannya diletakkan anak pisang. Karena itu, perlengkapan ini disebut Pisang Jati.

Letaknya di hulu sawa, menegaskan bahwa Pisang Jati adalah simbol manusia utama yang sedang dilepaskan dari keterikatan jasmani.

Pisang jati dimaknai sebagai simbol swadharma manusia utama. Filosofi ini ditegaskan dalam Sarasamuscaya sloka 2:

“Wwang tan hana pisan katon, ya ta pisan maurip, yan hana pisan katon, ya pisan matis.”
(Manusia tidak akan ada selamanya; sekali lahir pasti akan mati).

Namun, sebelum ajal tiba, manusia wajib menunaikan dharmanya. Seperti pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah, manusia pun semestinya tidak menutup hidup sebelum mempersembahkan buah karya, kebajikan, dan pengabdian (nangun yasa kerti).

 Dalam Sanghyang Aji Swamandala disebutkan:

“Atma kapralina ring sarira, sarira mapulang ring panca mahabhuta, mwang atma lumaris ring swargaloka.”
(Atma dilepaskan dari tubuh; tubuh kembali ke Panca Mahabhuta; dan atma berjalan menuju swargaloka).

Pisang Jati dalam Ngaben menegaskan proses ini. Ia adalah sarana pelepasan, agar roh tidak kembali melekat pada badan kasar, tetapi dapat melanjutkan perjalanan menuju kesucian.

Dengan demikian, Pisang Jati (Adegan) memiliki makna mendalam dalam Ngaben:

  1. Sebagai saksi kosmis, tubuh berasal dari Panca Mahabhuta dan kembali ke asalnya.
  2. Sebagai cermin tubuh manusia, batang, daun, buah, dan akar melambangkan unsur kehidupan.
  3. Sebagai Adegan, ia adalah perwujudan orang yang meninggal, tempat berstana Panca Mahabhuta.
  4. Sebagai simbol swadharma, manusia harus meninggalkan buah kebajikan sebelum mati.
  5. Sebagai sarana pelepasan, Pisang Jati mengantar roh melanjutkan perjalanan menuju kesucian.

Setiap kali Pisang Jati hadir dalam Ngaben, umat diajak merenungkan hakikat hidup: bahwa tubuh hanyalah titipan, hidup adalah kesempatan menunaikan swadharma, dan kematian adalah jalan kembali kepada Sang Hyang Widhi     


Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...