Langsung ke konten utama

AlamRasa

AlamRasa
Om Swastyastu 

Berapa lama lagi manusia akan mencari Tuhan hanya lewat kata-kata, lewat buku, lewat dalil, lewat konsep yang saling bersahutan? Semua itu penting, namun pada akhirnya harus ditundukkan. Sebab ada wilayah yang tak bisa dijangkau oleh akal dan kata. Di wilayah itu hanya keheningan yang mampu menuntun jiwa pulang.

Dalam ajaran Hindu Bali dikenal mauna, diam suci. Diam yang bukan sekadar menahan bicara, melainkan hening di pikiran, teduh di hati, dan lapang di jiwa. Justru dalam diam itu atman dapat mendengar kembali bisikan halus dari Brahman. Dan saat hening itu hadir, barulah tersadar bahwa jarak dengan Sang Hyang Widhi sebenarnya tidak pernah ada. Yang jauh hanyalah pikiran yang terus berlari ke luar.

Menjadi seperti anak kecil barangkali adalah jalan yang paling dekat. Anak kecil tidak sibuk dengan dalih dan argumen. Ia hanya menangis bila jauh dari ibunya. Demikian pula jiwa yang telah menyentuh rasa; ia hanya rindu bila terasa jauh dari Tuhannya. Tangis itu bukan karena takut, melainkan karena cinta yang meluap. Itulah bhakti sejati—rindu untuk pulang.

Langkah pertama menuju pulang adalah diam. Diam bukan hanya di mulut, melainkan juga di pikiran. Diam dari ambisi yang melelahkan, dari keinginan yang tak henti, dari ketakutan yang meresahkan. Ketika semua suara dunia mulai mengecil, suara hakikat mulai terdengar. Bukan terdengar di telinga, tetapi di dalam dada yang perlahan menjadi lapang. Saat itulah akan disadari: inilah awal dari segala awal.

Ketika hati terasa letih mencari, ketika akal terasa buntu, janganlah gentar. Itu pertanda sudah dekat dengan pintu rasa. AlamRasa tidak jauh. Ia bukan sesuatu yang perlu dicari ke luar, melainkan disingkap ke dalam. Duduklah tenang, pejamkan sejenak dunia, dan biarkan diri larut dalam diam.

Dan di sanalah bhakti akan lahir dengan ketulusan. Di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa menyapa dengan bahasa-Nya yang paling murni: keheningan.

Seperti tertulis dalam Lontar Tutur Gong Wesi:

"Mauna paramo tapa, mauna paramo yajña, mauna paramo jñana, mauna paramo yoga."

Diam adalah tapa tertinggi, diam adalah yadnya tertinggi, diam adalah pengetahuan tertinggi, dan diam adalah yoga tertinggi.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...