Langsung ke konten utama

Empati Tanpa Kitab

Empati Tanpa Kitab
Manusia kerap diyakinkan bahwa kitab suci adalah syarat agar ia mampu berbuat baik. Namun, mari kita membuka mata sejenak. Seekor hewan pun mampu menolong kawannya yang hampir celaka, tanpa mengenal kitab, tanpa mengerti pahala, tanpa takut neraka. Yang dimilikinya hanyalah denyut empati, yang lahir begitu alami dari jantung kehidupan.

Saat melihat kawannya panik, getaran itu menjalar ke dalam dirinya. Seolah suara sunyi di dalam hati berkata: jika ia menderita, aku pun merasakannya. Maka tubuhnya bergerak, menembus air, meraih, menyelamatkan. Dan ketika kehidupan kembali pulih, hadir rasa lega, rasa damai yang sederhana. Tidak ada janji surga yang menunggu, tidak ada ancaman neraka yang membayangi. Hanya kasih yang lahir dari rahim semesta.

Maka renungan pun hadir: bila seekor hewan saja mampu menunjukkan kepedulian tanpa pamrih, mengapa manusia—yang menyebut dirinya makhluk berakal—sering masih menimbang kebaikan dari pahala, atau menakar cinta dari ancaman hukuman?

Bagi siapa pun yang kadang merasa dianggap “kurang beragama”, janganlah resah. Empati bukan hadiah yang datang kemudian, melainkan anugerah yang sudah ditanamkan sejak lahir. Ia adalah benih halus yang membuat manusia mampu peduli, menolong, dan menjadi makhluk yang utuh.

Namun agama tetaplah cahaya, jalan yang menjaga agar empati tidak hanya berhenti pada naluri, tetapi tumbuh menjadi kesadaran. Agama menuntun agar kasih tidak hanya terikat pada lingkaran kecil, tetapi meluas kepada seluruh semesta. Ia adalah pegangan moral dan spiritual, agar kebaikan tak sekadar kilatan rasa, melainkan sungai yang mengalir sepanjang hidup.

Dalam ajaran Hindu Bali kita mengenal Tat Twam Asi—aku adalah engkau, engkau adalah aku. Di situlah inti kasih yang sejati: melihat diri sendiri dalam penderitaan orang lain, dan menemukan Tuhan dalam wajah setiap makhluk.

Jika seekor hewan saja mampu menolong tanpa pamrih, tidakkah manusia, dengan akal dan agamanya, semestinya mampu melampaui itu? Bukan karena pahala, bukan karena takut neraka, melainkan karena cinta yang tulus, cinta yang menyadarkan bahwa kita dan seluruh ciptaan hanyalah satu napas dalam kehidupan yang sama.

Ya Tuhan, tuntunlah hati kami agar mampu melihat Engkau dalam setiap makhluk. Jadikan empati sebagai bahasa kasih kami, dan biarkan cinta tumbuh bukan karena takut, bukan karena pamrih, melainkan karena kesadaran bahwa Engkau ada di dalam segala yang hidup.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...