Langsung ke konten utama

“Segalanya Adalah Brahman”

Segalanya Adalah Brahman”


Baruch Spinoza, filsuf Belanda abad ke-17, pernah mengguncang dunia filsafat dengan gagasan berani: Tuhan dan alam semesta adalah satu substansi. Ia menyebutnya Deus sive Natura — Tuhan atau Alam. Bagi Spinoza, tidak ada sesuatu pun di luar Tuhan, karena seluruh realitas adalah ekspresi-Nya.

Pemikiran ini kemudian dikenal sebagai panteisme, keyakinan bahwa Tuhan adalah segalanya, dan segalanya adalah Tuhan. Tuhan tidak berada jauh di langit, melainkan hadir di setiap hukum alam, setiap denyut kehidupan, setiap gerak partikel. Ia transenden, melampaui ruang dan waktu, sekaligus imanen, meresapi segala yang ada.

Dalam Hindu, kita menemukan gema yang seirama. Upanishad menegaskan:

“Sarvam khalvidam Brahma” — sesungguhnya segala yang ada ini adalah Brahman.

(Chandogya Upanishad 3.14.1)

Bhagavad Gita pun mengajarkan:

“Aku adalah benih dari segala makhluk, tiada satupun yang dapat hidup tanpa Aku.”

(Bhagavad Gita 10.39)

Spinoza menolak gambaran Tuhan yang marah, cemburu, atau penuh kasih sayang seperti manusia. Baginya, Tuhan tidak memiliki emosi maupun tujuan. Semua berjalan menurut hukum alam, dan hukum itu sendiri adalah wujud Tuhan. Hindu pun mengajarkan hal yang mirip, bahwa ṛta — keteraturan kosmis — adalah jalan Tuhan bekerja. Matahari terbit, air mengalir, angin berhembus, semua adalah hukum ilahi yang tidak memerlukan amarah ataupun belas kasihan.

Namun Hindu melangkah lebih jauh. Selain mengenal Tuhan tanpa sifat (Nirguna Brahman), Hindu juga mengajarkan Tuhan dalam bentuk personal (Saguna Brahman), yang dapat disapa melalui doa, bhakti, dan persembahan. Inilah yang membuat hubungan manusia dengan Tuhan tetap hangat, tanpa kehilangan kesadaran bahwa hakikat-Nya melampaui bahasa dan imajinasi.

Merenungkan Spinoza dalam nafas Hindu adalah undangan untuk melihat Tuhan tidak hanya “di atas sana”, tetapi juga dalam hembusan napas, dalam daun yang bergetar, dalam hukum semesta yang bekerja tanpa henti. Dan sekaligus, dalam keheningan pura, di balik dupa yang mengepul, kita tetap bisa menyapa-Nya dengan penuh cinta

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...