Langsung ke konten utama

Dari Dogma ke Spiritualitas

Dari Dogma ke Spiritualitas


Sejak awal peradaban, manusia selalu dihantui oleh pertanyaan yang sama: dari mana kita berasal, mengapa kita ada, dan ke mana kita akan kembali. Agama hadir sebagai jawaban awal, sebuah percobaan untuk mengisi kekosongan itu. Ia menyajikan cerita tentang penciptaan, tentang Tuhan, tentang keteraturan semesta, dengan bahasa yang sederhana namun menenangkan hati.


Namun, seiring waktu, sains masuk membawa jawaban yang lebih konsisten, lebih teruji, meski sering kali terasa dingin dan rumit. Sains berbicara dengan angka, rumus, dan teori yang kadang sulit dipahami. Agama, sebaliknya, berbicara dengan simbol, cerita, dan harapan. Seperti rasa manis yang tetap dicari meskipun dianggap kurang sehat, agama bertahan karena memberi kenyamanan. Ia membuat manusia merasa tidak sendirian, memberi ruang untuk berharap, bahkan menjadi semacam candu yang menenangkan.


Di masa depan, mungkin agama tidak lagi diperlakukan sebagai kebenaran mutlak yang bersaing dengan sains. Ia akan lebih menjadi pegangan moral dan spiritual, semacam kompas batin yang menuntun manusia untuk hidup lebih berempati, lebih menghargai kehidupan, dan lebih selaras dengan alam. Agama tidak perlu lagi menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja, sebab sains telah mengambil peran itu. Yang tersisa dan semakin penting adalah tugas agama menjawab mengapa kita hidup, untuk apa kita berbuat baik, dan bagaimana menjaga keseimbangan batin di tengah derasnya arus peradaban modern.


Jika arah ini yang diambil, agama akan tetap bertahan, bukan sebagai tembok yang kaku, melainkan sebagai cahaya yang menyejukkan. Ia menjadi tempat manusia mencari kedamaian, bukan arena perebutan kebenaran. Agama akan bertransformasi dari dogma menuju jalan spiritual, dari klaim mutlak menuju inspirasi moral.


Pada akhirnya, mungkin inilah peran sejati agama di masa depan: bukan lagi sebagai jawaban atas segala pertanyaan, melainkan sebagai pengingat agar manusia tidak kehilangan arah ketika sains, teknologi, dan modernitas semakin maju..

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga

Hari Raya Nyepi: Refleksi dan Penyucian di Tilem Kesanga Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara M. Hari Raya Nyepi, sebagai hari raya umat Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai momen untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai waktu untuk refleksi dan penyucian diri. Dalam konteks ini, Tilem Kesanga dianggap sebagai momen yang ideal untuk melaksanakan Hari Raya Nyepi. Tilem Kesanga, yang merupakan hari bulan mati (tilem) pada sasih kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali), adalah waktu yang tepat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian , yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Secara filosofis, Tilem Kesanga adalah hari yang paling gelap sebelum menuju terang. Ini melambangkan proses penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki tahun baru Saka. Dalam sistem Wariga (astronomi tradisional Bali), Sasih Kesa...