Getaran Puja, Frekuensi Bajra, dan Hormon Kebahagiaan dalam Yadnya
Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba
Setiap puja yang dilantunkan oleh seorang Sulinggih selalu dimulai dari hening batin. Dalam keheningan itu, suara muncul bukan sekadar bunyi, tetapi gelombang yang membawa niat suci, doa, dan kesadaran. Mantra yang mengalir lembut adalah rangkaian getaran yang memasuki telinga umat, lalu menyentuh seluruh sistem saraf, mempengaruhi kimia tubuh, serta membangkitkan rasa damai yang tak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata. Itulah sebabnya umat sering berkata bahwa suara puja seorang Sulinggih bisa “menyentuh sampai ke hati”.
Di balik pengalaman batin tersebut, ada sesuatu yang bekerja secara halus di tubuh manusia. Ketika mantra dilantunkan dalam ritme yang teratur, frekuensi suaranya memicu peningkatan hormon oksitosin—hormon kedamaian, keteduhan, dan rasa keterhubungan. Oksitosin inilah yang membuat umat merasa dekat dengan Tuhan, merasa diterima oleh alam, dan merasakan kehadiran leluhur dalam hening. Bersamaan dengan itu, dopamin—hormon kebahagiaan dan semangat—ikut naik perlahan, memunculkan rasa syukur, haru, dan ketenangan yang membasuh seluruh pikiran.
Ritme puja yang mengalir, nafas yang teratur, dan vibrasi bajra yang halus menjadi penghubung antara tubuh kasar dan alam niskala.
Energi bekerja melalui getaran.
Ini bukan sekadar kepercayaan, tetapi kenyataan yang diakui baik dalam filsafat Samkhya maupun dalam fisika modern: bahwa segala sesuatu adalah vibrasi. Tubuh manusia, pikiran, suara, bahkan niat di dalam hati, semuanya memancarkan frekuensi tertentu.
Ketika Sulinggih memuja dengan batin bening, suara beliau membawa gelombang yang teratur. Gelombang inilah yang menuntun umat menuju kondisi batin yang lebih tenang, membuka ruang kesadaran, dan menghubungkan mereka dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Bajra yang dibunyikan perlahan memancarkan resonansi yang memperkuat getaran mantra, menjadikannya seperti mercusuar energi yang menuntun umat ke pusat kedamaian.
Namun seluruh keindahan vibrasi itu hanya bisa muncul bila batin pelaksananya jernih.
Kemarahan, ketegangan, atau kejengkelan yang muncul dari seorang Sulinggih saat muput yadnya akan memecah irama halus tersebut.
Getaran kemarahan memiliki frekuensi rendah yang sangat cepat diserap oleh tubuh umat; oksitosin turun, dopamin merosot, dan tubuh masuk ke mode waspada. Yang seharusnya menyejukkan berubah menjadi ketidaknyamanan. Yang seharusnya membawa umat pada kedekatan dengan leluhur tiba-tiba terganggu oleh perasaan takut atau sungkan. Vibrasi suci yang seharusnya membuka jalan menuju Tuhan malah terhenti oleh badai kecil pada batin sang pemimpin ritual.
Umat yang hadir membawa hati yang tulus, penuh harapan, dan sering kali juga kelelahan hidup. Mereka berharap keteduhan dari seorang Sulinggih. Mereka mencari pelindung energi, bukan sumber tekanan. Karena itu, seorang Sulinggih pada hakikatnya bukan hanya pemimpin upacara, tetapi penjaga vibrasi—penentu kualitas getaran yang dialami umat. Satu kata lembut dapat menenangkan puluhan hati. Satu getaran marah dapat membuat seluruh yadnya terasa berat.
Muput yadnya berarti menyempurnakan persembahan. Dan yang sempurna bukanlah rangkaian upacara semata, tetapi keadaan batin yang menemani setiap gerakannya. Ketika puja dilantunkan dengan penuh kasih, suara itu menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Dewa, leluhur, dan seluruh unsur alam.
Ketika bajra digetarkan dalam kesadaran yang jernih, ia menjadi pancaran energi yang mensucikan. Tubuh umat merasakan resonansi itu, pikiran mereka melembut, dan batin mereka membuka diri untuk menerima berkah.
Di tengah kesucian frekuensi itu, marah adalah getaran yang tidak sejalan dengan yadnya. Marah merusak harmoni, menurunkan energi, dan menutup pintu hati umat. Tidak ada titik dalam yadnya yang layak ditempati oleh vibrasi seperti itu. Seorang Sulinggih adalah sumber cahaya dan pusat keteduhan. Ketika beliau menjaga kejernihan batin, seluruh umat akan ikut menjadi teduh. Ketika beliau menjaga frekuensi suci dalam dirinya, mantra akan mengalir lebih lembut, energi akan bergerak lebih halus, dan umat akan lebih mudah tersambung dengan Tuhan dan para leluhur.
Pada akhirnya, yadnya adalah perjalanan getaran: dari suara menuju energi, dari energi menuju kesadaran, dari kesadaran menuju penyatuan. Dan perjalanan itu hanya dapat ditemukan bila pemegang vibrasinya menjaga kejernihan hati. Dari sanalah kedamaian lahir, oksitosin mengalir, dopamin bangkit, dan umat benar-benar merasakan bahwa mereka sedang berada di pangkuan Tuhan.
Catatan Kaki
1. Oksitosin – Hormon ikatan, ketenangan, dan rasa kedekatan; diproduksi di hipotalamus dan dilepas oleh kelenjar pituitari.
2. Dopamin – Neurotransmiter yang mengatur rasa senang, motivasi, fokus, dan sistem penghargaan (reward system).
3. Vibrasi / Frekuensi – Dalam fisika kuantum, semua materi dan energi bekerja dalam bentuk gelombang; segala sesuatu memiliki getaran.
4. Resonansi – Fenomena ketika suatu sistem ikut bergetar karena menerima gelombang dari sumber lain yang sefrekuensi.
5. Mode Waspada – Aktivasi sistem saraf simpatis (fight-or-flight) yang menurunkan hormon ketenangan dan meningkatkan ketegangan tubuh.
‐------