Antara Pintar dan Bijak
Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba
Ada orang yang disebut pintar, dan ada manusia yang sungguh-sungguh bijak. Keduanya kerap disamakan, padahal dalam kehidupan nyata perbedaannya terasa sangat jelas, bahkan tanpa harus diucapkan. Orang pintar biasanya dikenali dari kecakapannya membaca situasi, memahami aturan, dan menyusun strategi. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus melangkah demi kepentingannya. Namun kecerdasan semacam ini sering berjalan beriringan dengan perhitungan berlebihan. Setiap langkah ditakar untung-ruginya, setiap relasi diukur manfaatnya. Tanpa disadari, kehadirannya justru membuat orang lain merasa kecil, rendah, atau tidak nyaman. Bukan selalu karena niat merendahkan, melainkan karena ego terlalu sering berdiri di depan, menutupi empati.
Orang pintar juga kerap sibuk mengkritik keadaan. Lingkungan, sistem, bahkan manusia lain tampak salah bila tidak sejalan dengan pikirannya. Kesalahan orang lain terlihat terang, sementara kekurangan dirinya sendiri seolah tertutup kabut. Dari sinilah tumbuh rasa paling benar dan paling tahu. Lontar Wrhaspati Tattwa mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa pengendalian diri hanya melahirkan kesombongan. Dalam Sarasamuscaya ditegaskan: “Apan ikang janma wwang, pinaka uttama ring sarwa prani, kunang ikang uttamatwa, hana ring karana, wenang ya tumulung awaknya sangkaning sangsara.” Manusia disebut utama bukan karena kepintarannya semata, melainkan karena kemampuannya menolong dan menundukkan dirinya sendiri. Ilmu yang tidak ditopang tata susila bukan menjadi cahaya, melainkan beban batin yang menjauhkan manusia dari kebijaksanaan.
Berbeda dengan itu, orang bijak hadir dengan rasa yang lain. Kehadirannya menenangkan, menguatkan, dan membuat orang lain bertumbuh. Ia tidak sibuk menunjukkan keunggulan diri, karena egonya telah ditempatkan pada ruang yang semestinya. Orang bijak tetap cerdas, bahkan sering jauh lebih tajam dari orang pintar, tetapi kecerdasannya dibalut empati dan welas asih. Ia memahami bahwa meninggikan diri dengan merendahkan orang lain bukanlah tanda keunggulan, melainkan tanda kegelisahan batin.
Dalam ajaran susila Bali, kebijaksanaan dipandang sebagai puncak dari kecerdasan. Kata susila berasal dari su yang berarti baik dan sila yang berarti dasar perilaku. Maka susila bukan sekadar sopan santun lahiriah, melainkan fondasi batin untuk membangun harmoni diri, sosial, dan alam semesta. Wrhaspati Tattwa menegaskan bahwa pengetahuan sejati harus disertai pengendalian diri. Tanpa penguasaan indriya dan pikiran, jñana hanya memperbesar ahamkara. Karena itu diajarkan pengendalian melalui brata dan kewaspadaan terhadap Sapta Timira—kama, krodha, lobha, moha, mada, matsarya—yang menjadikan manusia tajam mengkritik luar tetapi lalai bercermin ke dalam.
Wratisasana menekankan sikap sarjawa upasama, kerendahan hati dan mawas diri, terutama bagi mereka yang berilmu dan memimpin. Orang yang berjalan di jalur kebijaksanaan tidak menggurui. Ia membuka ruang, mengangkat martabat sesama, dan menebarkan ketenangan. Dalam Tattwa Kala dan berbagai Tutur, manusia bijak digambarkan sebagai mereka yang memahami hukum karma dan kesinambungan hidup, sehingga mampu melihat kesalahan diri dan orang lain secara seimbang. Kesadaran ini melahirkan penerimaan dan kedalaman rasa, menciptakan selaras antara bhuana alit dan bhuana agung.
Di titik inilah perbedaan orang pintar dan orang bijak menjadi terang. Kepintaran adalah alat, bergerak pada kecerdasan analitis dan strategi. Kebijaksanaan adalah tujuan, lahir dari pengendalian ego, refleksi diri, dan kerendahan hati. Orang pintar bisa unggul, tetapi orang bijak menguatkan. Ia tidak membuat orang lain merasa kecil, melainkan membantu setiap insan menemukan martabatnya sebagai manusia seutuhnya.
‐-------