Susila (Adab): Jejak yang Tak Pernah Padam
Jangan dikira kemuliaan lahir dari bangku sekolah, dari gelar yang berbaris di belakang nama, atau dari suara yang fasih menghias ruang publik. Ilmu mampu mempertajam kecerdasan, tetapi hanya Susila (adab) yang memurnikan jiwa. Dan jiwa yang murni adalah anugerah paling tinggi yang dapat diraih manusia dalam perjalanan hidupnya.
Dalam tradisi tattwa Bali, Susila diibaratkan cahaya halus yang tidak tampak mata, tetapi terasa oleh hati. Ia lahir dari pengalaman yang ditempa, kesabaran yang diuji, serta perenungan yang tak pernah putus. Tidak semua orang yang mampu berbicara indah memiliki laku yang indah; tetapi siapa pun yang menjaga Susila akan selalu menjaga kedamaian di mana pun langkahnya berada.
Sarasamuccaya menegaskan dalam sloka 79:
“Yan tan wruh ring subha-asubha-karma, ndatan dadi sira amolahakena wwang.”
(Seseorang yang tidak memahami baik dan buruk, tidak pantas menilai orang lain.)
Kutipan ini mengajarkan bahwa Susila tidak pernah berdiri di atas kesombongan. Semakin luhur seseorang, semakin rendah nada suaranya; semakin tinggi pengetahuannya, semakin halus perilakunya. Susila adalah lawan dari penghakiman, dan sahabat dari kebeningan batin.
Dalam sloka lain, Sarasamuccaya 255 menegaskan:
“Subha karma hetu sangsaya rahayu.”
(Perbuatan baik adalah sebab datangnya keselamatan.)
Maka setiap langkah yang berangkat dari hati jernih akan menabur keselamatan bagi diri sendiri dan sekitarnya. Itulah inti dari Susila (adab): tidak pernah menyakiti, bahkan melalui kata yang hanya diketik dengan jari.
Zaman digital membuat kata-kata mengalir lebih cepat daripada kesadaran. Jari lebih laju daripada pikiran. Dunia maya sering menjadi medan tempat orang melontarkan ejekan, umpatan, dan penghinaan yang dibungkus dengan alasan kebebasan. Padahal hidup di negeri Pancasila adalah hidup yang menempatkan nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada kebebasan berekspresi yang tanpa batas. Tanpa Susila, kebebasan hanya melahirkan kekacauan.
Di dalam Lontar Nitisastra, terdapat ajaran yang sangat relevan dengan kondisi ini. Sloka 5 berbunyi:
“Duhkha-pariklesa-kara sabda, tan kena winakna sakena.”
(Perkataan yang menyakiti membawa penderitaan; jangan dikeluarkan sembarangan.)
Ajaran ini mengingatkan bahwa lidah adalah pedang, tetapi jari di zaman digital lebih tajam dari semua pedang. Susila (adab) adalah tameng agar pedang itu tidak melukai siapa pun.
Dalam Kakawin Nitisastra, terdapat pula baris yang sangat indah:
“Wruh ring basa, wruh ring laksana, ring kerta ning manusa.”
(Bijaksanalah dalam berbicara, dalam berperilaku, dan dalam menjaga harmoni sesama manusia.)
Kutipan ini menegaskan bahwa Susila bukan sekadar etika pribadi, melainkan jembatan untuk menciptakan harmoni sosial. Tanpa Susila, masyarakat akan kehilangan rasa hormat; tanpa rasa hormat, institusi apa pun, sekecil keluarga hingga sebesar negara, tidak dapat berdiri tegak.
Lontar Wratisasana yang lebih menekankan pada pengendalian diri, memberi nasehat:
“Angga sarira hana ring awak, tan hana guna tanpa wruh ring kawisesan.”
(Tubuh manusia memang ada, namun tiada gunanya tanpa penguasaan diri.)
Penguasaan diri adalah akar dari Susila. Tanpa penguasaan diri, ilmu menjadi sombong; harta menjadi angkuh; jabatan menjadi gelap. Susila-lah yang mengubah kekuasaan menjadi pelayanan, dan mengubah kepintaran menjadi kebijaksanaan.
Dalam ajaran Wratisasana lainnya disebutkan:
“Sura tan kewala ring angga, nanging ring manah sane sanyoga.”
(Keberanian tidak hanya ada pada tubuh, tetapi pada hati yang terlatih.)
Keberanian yang sejati adalah keberanian menjaga tutur kata, meski dunia mendorong untuk berbicara kasar. Keberanian adalah kemampuan menahan diri ketika memegang kuasa. Dan keberanian terbesar adalah tetap memilih kebaikan, meski kebaikan tidak selalu disambut tepuk tangan.
Harta dapat hilang, jabatan dapat lenyap sewaktu-waktu, nama besar dapat digulung arus waktu. Namun Susila (adab) adalah satu-satunya yang tidak dapat dilenyapkan oleh zaman. Ia meninggalkan jejak yang tidak tercatat dalam piagam, tetapi tertulis dalam hati manusia.
Jejak itulah yang dikenang.
Yang tidak pernah padam.
Yang membuat seseorang dihormati meski telah tiada.
Susila adalah bunga yang tumbuh di ladang batin; tidak berbunyi, tetapi mengharumkan. Tidak mencari sorotan, tetapi menerangi. Tidak membanggakan diri, tetapi mengangkat martabat sesama.
Dan pada akhirnya, Susila (adab) adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri, tidak dapat dipalsukan, tidak dapat dibeli—karena ia hanya dapat tumbuh dari jiwa yang bersungguh-sungguh menjaga kemuliaan.