Langsung ke konten utama

Menemukan Kembali Dharma: Menggugat Agama yang Kehilangan Kesadaran

Menemukan Kembali Dharma: Menggugat Agama yang Kehilangan Kesadaran

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


​Tulisan ini kembali mengusik batin kita hariini dengan memotret sebuah realitas yang getir: di Indonesia, agama sering kali berhenti menjadi jalan kesadaran dan justru berubah menjadi instrumen kekuasaan, identitas yang kaku, serta ruang di mana nalar berhenti bekerja. Jika kita melihat kegelisahan ini dari kacamata filosofi Hindu Bali, kita akan menemukan bahwa kritik tersebut sesungguhnya adalah panggilan untuk kembali kepada hakikat Dharma.

​Agama: Antara Label dan Kesadaran Jnana

​Dalam masyarakat kita, sering kali "beragama" hanya dimaknai sebagai status administratif atau kepatuhan pada ritual yang mekanistik. Dalam tradisi Hindu Bali, ini disebut sebagai risiko terjebak dalam Gugon Tuwon—percaya dan ikut-ikut tanpa dasar pemahaman.

​Padahal, Hindu mengajarkan pentingnya Jnana Marga, yakni jalan pengetahuan. Agama seharusnya tidak membuat manusia menjadi bodoh atau mudah digerakkan oleh narasi emosional. Sebaliknya, agama harus menjadi Deepa atau obor yang menerangi kegelapan pikiran (Awidya). Jika agama justru digunakan untuk menutup daya kritis, maka kita sedang berjalan menjauhi cahaya kesadaran.

Tat Twam Asi: Obat Penawar Politik Identitas

​Sorotan mengenai bagaimana agama dikomodifikasi dalam politik identitas yang melahirkan kebencian menjadi sangat relevan dengan nilai Tat Twam Asi—"Aku adalah Kamu". Dalam Hindu Bali, setiap makhluk membawa percikan suci yang sama (Atman).

​Ketika seseorang menggunakan agama untuk menghakimi, merendahkan, atau memusuhi sesama, ia sesungguhnya sedang menyangkal keberadaan Tuhan yang ada dalam diri orang lain. Agama yang sehat tidak menciptakan "superioritas moral", melainkan melahirkan empati yang mendalam. Beragama dengan kesadaran berarti menyadari bahwa menyakiti sesama manusia sama saja dengan melukai harmoni semesta.

​Harmoni dalam Tri Hita Karana

​Gagasan bahwa agama harus menghadirkan keteduhan batin dan keterhubungan sosial sangat sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Hubungan kita dengan Tuhan (Parhyangan) tidak boleh mengorbankan hubungan kita dengan sesama manusia (Pawongan).

​Agama yang dipaksa masuk ke wilayah negara secara literal dan kaku hanya akan merusak tatanan Pawongan kita sebagai bangsa yang majemuk. Sebagai bangsa yang berdiri di atas Pancasila, agama seharusnya menjadi "energi etik"—sebuah kompas moral yang membuat kita lebih manusiawi, lebih toleran, dan lebih bijaksana dalam menjaga keutuhan negeri.

​Penutup: Kembali ke Kedalaman Spiritual

​Kritik ini bukanlah serangan terhadap institusi agama, melainkan sebuah bentuk cinta. Ini adalah pengingat bahwa tujuan akhir dari Dharma adalah Moksartham Jagadhita—mencapai kebahagiaan batin sekaligus kesejahteraan duniawi.

​Jika cara kita beragama justru menciptakan rasa cemas dan permusuhan, maka ada yang salah dalam cara kita memahami ajaran tersebut. Mari jadikan agama sebagai jalan untuk memperhalus budi pekerti, memperluas cakrawala berpikir, dan mempererat ikatan persaudaraan. Karena pada akhirnya, agama ada untuk memuliakan kemanusiaan, bukan untuk membelenggunya.

"Agama semestinya menyenangkan, menenangkan, dan membuat manusia semakin manusiawi."

 ________

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...