Menemukan Nurani dalam Adat: Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian
Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba
Kematian sejatinya bukan peristiwa yang mengotori kehidupan, melainkan bagian paling jujur dari kehidupan itu sendiri. Ketika seorang manusia mengembuskan napas terakhir, yang tersisa bukanlah cemar, melainkan sebuah raga yang telah menyelesaikan tugas baktinya di dunia. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali nurani berhadapan dengan tembok adat yang menegang. Seolah-olah kematian adalah sebuah "noda" yang harus segera dijauhkan agar kesucian sebuah ritual atau yadnya tidak terusik.
Padahal, jika kita merenung dengan jernih, yadnya justru lahir untuk memuliakan kehidupan, bukan untuk menyingkirkan kemanusiaan.
Kesetaraan dalam Pandangan Tat Twam Asi
Sering terjadi ketimpangan rasa ketika kita memandang kematian. Di satu sisi, adat begitu keras menjaga jarak dengan jenazah manusia karena dianggap membawa kekotoran (cemer). Namun di sisi lain, kita begitu longgar terhadap darah binatang yang dihadirkan secara sadar dalam pelaksanaan caru.
Jika kita merujuk pada hakikat kedokteran maupun esensi filosofi Tat Twam Asi yang mengakar kuat dalam tradisi kita, terdapat titik temu yang mutlak: Kesetaraan. Secara biologis, penderitaan manusia dan binatang adalah setara; saraf, darah, dan rasa sakit tidak mengenal label. Secara spiritual, percikan suci dalam diri setiap makhluk adalah sama.
Pencerahan dari Sastra Yama Purana Tattwa
Bakti kita kepada leluhur juga telah dibekali dengan petunjuk suci dalam Lontar Yama Purana Tattwa. Sastra ini dengan tegas mengingatkan kita bahwa jenazah yang semakin cepat diperabukan—meskipun hanya dengan upacara yang sederhana atau kecil—adalah semakin baik. Hal ini bertujuan agar sang atman tidak terikat terlalu lama di dunia dan unsur-unsur tubuh segera menyatu kembali dengan asalnya.
Maka, jika darah binatang dalam yadnya dipandang sebagai sarana penyucian, tubuh manusia yang telah wafat semestinya diperlakukan dengan penuh penghormatan untuk segera diproses secara spiritual. Di sinilah kedewasaan kita diuji; apakah kita bergerak atas dasar dharma, ataukah sekadar menjalankan ketakutan yang diwariskan tanpa sempat kita renungkan maknanya kembali.
Mengembalikan Martabat di Rumah Duka
Jalan keluarnya bukan dengan meniadakan ritual, bukan pula dengan menabrak tatanan desa. Kuncinya adalah mengembalikan keseimbangan. Jenazah semestinya tetap dibawa pulang ke rumah duka, karena di sanalah martabat manusia dijaga. Rumah adalah ruang bagi keluarga untuk berpisah secara batin dan menerima kematian sebagai bagian dari siklus Panca Mahabhuta.
Kita tidak boleh membiarkan rumah sakit berubah fungsi menjadi "penyangga ketakutan sosial" hanya karena alasan adat. Fungsi rumah sakit adalah medis, sementara rumah duka adalah ruang bagi cinta dan penghormatan terakhir.
Keheningan sebagai Bentuk Kedewasaan
Untuk menjaga harmoni, sebuah kearifan lokal bisa diterapkan: Berita kematian tidak perlu disebarluaskan secara hiruk-pikuk. Ini bukan upaya menutup-nutupi, melainkan cara menjaga ketenangan desa agar ritual yang sedang berjalan tetap khidmat.
Duka adalah ruang hening, bukan konsumsi sosial. Dengan membatasi penyebaran berita, desa justru menunjukkan kedewasaan dan kematangannya dalam bersikap—bahwa tidak setiap peristiwa duka harus direspons dengan kegaduhan adat yang membebani keluarga.
Adat yang Welas Asih
Puncak dari kemuliaan adat adalah ketika ia hadir sebagai pelindung, terutama bagi mereka yang sedang rapuh. Keluarga yang ditinggalkan sudah sepatutnya dibebaskan sementara dari kewajiban adat—tidak ngayah, tidak dibebani kehadiran fisik, dan tidak ditekan secara moral.
Pembebasan ini bukanlah kelemahan adat, melainkan kekuatan dari jiwa yang penuh welas asih. Di sinilah konsep Desa-Kala-Patra menemukan maknanya yang sejati: adat hadir untuk melindungi manusia, bukan menindihnya pada saat paling kritis.
Penutup
Dengan cara demikian, yadnya tetap berjalan, adat tetap berdiri, dan kemanusiaan tidak dikorbankan. Kesucian tidak lagi diukur dari seberapa jauh kita mampu menjauhkan kematian, tetapi dari seberapa halus rasa kita memperlakukan sesama yang sedang berduka. Karena pada akhirnya, yadnya yang sejati tidak terletak pada megahnya ritual, melainkan pada kejernihan nurani.
Catatan Penulis:
Tulisan ini disusun bukan sebagai bentuk penyebaran paham dari luar, melainkan murni sebagai wujud bakti dan rasa hormat saya kepada para Leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kebaikan. Apa yang tertuang di sini adalah upaya untuk menggali kembali mutiara kearifan lokal kita sendiri, agar adat tetap menjadi rumah yang teduh bagi kemanusiaan dan tetap ajeg dalam keluhuran budi.
____________