Langsung ke konten utama

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


​Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu.

​Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening

​Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian. Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci:

“Mwah ri tekaning TilÄ•ming Kasangha, tÄ•ka wÄ•nang wong ing madhya ginawe tawur, mwang NyÄ•pi sadintÄ•n.”


​Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tilem". Kata tekaning berarti "menuju" atau "menjelang". Ini adalah fase proses—fase dinamis di mana kita masih bergerak, bekerja, dan berinteraksi untuk menetralisir energi lama. Caru adalah persiapan kita untuk melepaskan segala beban tahun yang lalu.

​Sedangkan Nyepi adalah sebuah "Titik". Ia adalah saat Tilem itu sendiri. Tilem adalah momen di mana Matahari dan Bulan berada dalam satu garis lurus, menciptakan kegelapan total atau titik nol kosmis. Di sinilah letak logika lurusnya: Caru adalah jalannya, dan Nyepi adalah puncaknya tepat di hari Tilem.

​Mengapa Harus Tilem?

​Ada alasan astronomis yang mendalam mengapa Nyepi tidak seharusnya digeser ke hari setelahnya. Tilem adalah masa di mana tarikan energi aktivitas lahiriah mencapai titik minimum. Alam sedang berada dalam mode "diam".

​Jika kita melaksanakan Nyepi pada Penanggal Apisan (hari pertama setelah Tilem), maka kita sebenarnya sudah terlambat. Mengapa? Karena secara astronomis, pada hari Penanggal, cahaya sudah "lahir kembali" dan energi semesta mulai bergerak naik (dinamis). Mana mungkin kita menempatkan hari hening kosmis di saat cahaya dan energi justru sedang mulai bangun?

​Belajar dari Jejak Leluhur

​Sejarah mencatat bahwa tatanan pelaksanaan Nyepi pada masa lalu dijalankan dengan ketelitian yang luar biasa: Mekiis pada Panglong 13, Tawur pada Panglong 14, dan Nyepi tepat pada hari Tilem.

​Urutan ini adalah napas alam yang sempurna. Kita melakukan pembersihan dan pelepasan (Tawur) di saat bulan memudar (Panglong), lalu kita memasuki keheningan mutlak di saat bulan benar-benar habis (Tilem). Dengan demikian, begitu fajar menyingsing di hari Penanggal Apisan, kita benar-benar telah melewati titik nol dan siap melangkah ke Sasih Kedasa dengan jiwa yang baru. Itulah fungsi Nyepi sebagai "titik nol" pergantian tahun, bukan sekadar negosiasi administratif untuk hari libur.

​Penutup: Kedewasaan dalam Ber-Dharma

​Sebagai bagian dari generasi yang menjaga amanah sastra, saya melihat bahwa menjaga kemurnian Nyepi adalah menjaga eksistensi Bali sebagai pusat spiritualitas yang berbasis pada Rta (Hukum Alam).

​Kita harus mampu membedakan mana yang merupakan aturan administratif-sosial dan mana yang merupakan tuntunan kosmologis yang murni. Menjalankan Nyepi tepat pada hari Tilem adalah bentuk bakti kita kepada alam semesta. Mari kita jalankan Nyepi dengan penuh kesadaran—bukan sebagai polemik, melainkan sebagai jalan menuju Santi, kedamaian sejati yang selaras dengan detak jantung semesta.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...