Langsung ke konten utama

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Rekonstruksi Nyepi Menuju Titik Nol yang Sejati

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


​Spiritualitas adalah ilmu tentang ketepatan. Tanpa ketepatan waktu (Kala), ritual hanyalah gerakan tanpa makna. Saat ini, kita sedang melakukan anomali besar dalam pelaksanaan Nyepi. Kita sedang "mengerem di jalur cepat" dan "tancap gas di lampu merah spiritual".

​Mari kita bedah kontradiksi ini melalui analogi Rambu Lalu Lintas Semesta dengan menempatkan kembali prosesi pada tempat yang semestinya:

1. Panglong 14: Lampu Kuning (Pembersihan di Ambang Batas)

​Dalam manajemen energi Wariga, Panglong 14 sering dianggap fase yang "lelah" karena cahaya bulan hampir habis. Namun, jika kita merujuk pada filosofi Pralina (Peleburan) dalam Siwa Tattwa, inilah waktu yang paling tepat untuk Tawur Kesanga.

​Panglong 14 adalah Lampu Kuning kita—sebuah fase Purwani Tilem. Justru karena energinya sedang berada di titik terendah, inilah saat paling presisi untuk membuang seluruh residu energi negatif setahun terakhir. Menggeser Tawur ke Panglong 14 bukan sekadar teknis, tapi kepatuhan pada etika kosmis: kita membereskan "sampah" spiritual sebelum pintu gerbang keheningan total ditutup. Kita melakukan Nyomya Bhuta di akhir waktu, agar bejana diri benar-benar kosong sebelum memasuki titik nol.

2. Tilem Kesanga: Lampu Merah (Puncak Yoga Alam)

​Inilah titik di mana "kecelakaan spiritual" sering terjadi dalam tradisi kita saat ini. Berdasarkan Siwa Tattwa Purana, Tilem adalah fase di mana Sang Hyang Siwa melakukan Yoga Kasunyatan. Secara astronomis, cahaya nol. Alam semesta berhenti berdenyut sejenak untuk memulihkan diri.

Logikanya: Saat Lampu Merah menyala, Anda harus DIAM.

​Namun, apa yang kita lakukan selama ini di hari Tilem? Kita justru membuat kegaduhan luar biasa dengan pengerupukan dan parade ogoh-ogoh. Kita sedang menerobos lampu merah spiritual tepat saat alam sedang ingin tidur. Kita mengganggu "Yoga Alam" dengan ego manusia yang ingin berpesta di waktu yang salah. Seharusnya, Tilem adalah hari Nyepi. Sinkronkan diammu dengan diamnya alam. Itulah keheningan sejati.

3. Penanggal Apisan: Lampu Hijau (Anomali Berhenti di Jalan Tol)

​Tragedi sesungguhnya berlanjut pada Penanggal Apisan (Hari ke-1 Tahun Baru). Begitu fajar menyingsing, alam semesta menyalakan Lampu Hijau. Inilah fase Utpatti—masa penciptaan, saat cahaya pertama (Amrta) mulai terbit dan energi kehidupan mekar. Sesuai Lontar Usana Bali, awal bulan adalah waktu untuk aktivitas suci dan pertumbuhan.

​Namun, di saat Lampu Hijau ini menyala terang, kita justru memilih untuk tetap Nyepi (Berhenti Total). Bayangkan Anda berhenti diam di tengah jalan tol saat kendaraan lain (energi alam) sudah mulai melaju kencang. Inilah disharmoni. Kita menutup pintu saat Tuhan sedang membuka jendela berkat. Kita "berhenti di saat harusnya jalan".

REKONSTRUKSI: KEMBALI KE TITIK NOL

​Jika kita ingin Nyepi yang memiliki kualitas Samadhi dan selaras dengan Rta (Hukum Alam), rekonstruksinya harus radikal:

  • Panglong 14 (Lampu Kuning): Laksanakan Tawur Kesanga. Selesaikan pembersihan di fase terakhir sebelum cahaya habis. Gunakan sisa energi bulan untuk melebur sisa ego.
  • Tilem (Lampu Merah): Inilah puncak Nyepi. Berhentilah tepat saat alam berhenti. Inilah titik nol di mana manusia dan semesta menyatu dalam ketiadaan (Sunya).
  • Penanggal 1 (Lampu Hijau): Ngembak Geni. Bangkitlah! Jalankan aktivitas suci karena cahaya tahun baru sudah terbit. Mulailah melangkah bersama irama penciptaan alam yang baru.

​Hanya dengan cara inilah kita tidak lagi "berhenti di lampu hijau". Mari kembali pada Rta, karena alam tidak pernah salah memberikan rambu, manusialah yang sering kali salah membacanya.

Kembali pada Dharma, Kembali pada Rta.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud