Langsung ke konten utama

Pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali

Pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


Hari Raya Nyepi merupakan praktik keagamaan Hindu Bali yang memiliki dimensi kosmis, ekologis, dan spiritual yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar hari libur atau simbol identitas budaya, melainkan sebuah peristiwa sakral yang berkaitan langsung dengan ritme alam semesta (á¹›ta). Oleh karena itu, penentuan waktu pelaksanaannya harus diletakkan dalam kerangka wariga, tattwa, serta rujukan sastra suci Hindu Bali, bukan semata-mata kebiasaan administratif kalender.

Dalam sistem wariga Bali, Sasih Kesanga dikenal sebagai sasih yang bersifat panas, labil, dan sarat dengan dominasi energi bhuta kala. Lontar Wariga Krimping dan Wariga Gemet secara konsisten menempatkan Sasih Kesanga sebagai masa ketika kekuatan bhuta gumelar, sehingga diperlukan upaya penyomyaan terhadap bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia).

Dalam konteks inilah rangkaian Bhuta Yadnya, khususnya Tawur Kesanga, memperoleh legitimasi kosmisnya.

Nyepi sebagai puncak dari rangkaian tersebut sejatinya merupakan tindakan spiritual paling radikal: penghentian total aktivitas lahir dan batin manusia. Catur Brata Penyepian bukan sekadar disiplin etika individual, melainkan mekanisme kosmis untuk meredam gejolak bhuta kala melalui sunya, hening, dan ketiadaan aktivitas. Maka, secara wariga, Nyepi tidak dapat dilepaskan dari Sasih Kesanga.

Pemilihan hari Tilem sebagai waktu pelaksanaan Nyepi memiliki landasan tattwa yang kuat. Dalam lontar Sundarigama dijelaskan bahwa Tilem adalah fase pralina, yakni saat segala unsur kembali ke asalnya, sedangkan Purnama adalah fase utpati atau manifestasi.

Tilem, dengan demikian, adalah momentum kosmis yang paling tepat untuk penyepian, pengendapan, dan pelarutan ego manusia. Nyepi yang dilaksanakan pada Tilem Kesanga bukan sekadar tradisi, melainkan perwujudan langsung dari hukum kosmis pralina.

Dalam tradisi tattwa Bali, Tilem juga dipahami sebagai ruang kerja energi pralina yang secara simbolik dikaitkan dengan fungsi Bhatari Durga sebagai sakti pelebur dari Dewa Siwa. Pemahaman ini tersebar dalam berbagai teks tattwa seperti Durga Tattwa, Kala Tattwa, dan Siwa Tattwa, meskipun tidak selalu dirumuskan secara literal dalam satu naskah tunggal.

Yang ditekankan bukan figur Durga sebagai entitas menakutkan, melainkan sebagai prinsip kosmis pelebur yang memungkinkan pemurnian dan kelahiran kesadaran baru.

Berbeda dengan Sasih Kesanga, Sasih Kedasa memiliki karakter kosmis yang bertolak belakang. Dalam lontar Usana Bali dan teks-teks Dewa Tattwa, Sasih Kedasa dikenal sebagai sasih suci tempat turunnya Ista Dewata ke dunia.

Sasih ini digunakan untuk pelaksanaan Dewa Yadnya, piodalan besar, dan upacara pemujaan dewa, terutama di Pura Besakih dan pura-pura kahyangan jagat lainnya. Penanggal Apisan Sasih Kedasa menandai fase terang, awal gerak, dan ekspansi spiritual, bukan fase penghentian aktivitas.

Secara tattwa, menempatkan Nyepi pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa berarti mencampuradukkan dua fungsi kosmis yang berbeda: Bhuta Yadnya ditempatkan dalam ruang Dewa Yadnya, dan pralina dipaksakan hadir di tengah fase utpati. Ketidaktepatan membaca kala semacam ini, dalam berbagai ajaran Kala Tattwa, diyakini berpotensi melahirkan ketidakseimbangan, baik pada tatanan alam maupun pada kesadaran manusia.

Perlu ditegaskan bahwa tidak terdapat satu lontar pun yang secara eksplisit menyatakan dalam satu kalimat normatif bahwa Nyepi wajib dilaksanakan pada Tilem Kesanga. Namun, pembacaan sistemik terhadap wariga, tattwa, dan praktik keagamaan Bali secara konsisten menunjukkan bahwa Sasih Kesanga—khususnya Tilem Kesanga—merupakan ruang kosmis yang paling selaras bagi pelaksanaan Nyepi.

Dalam tradisi Hindu Bali, kebenaran sering kali hadir sebagai jejaring makna yang saling menguatkan, bukan sekadar perintah tekstual tunggal.

Dengan demikian, berdasarkan telaah wariga dan sastra Hindu Bali, pelaksanaan Hari Raya Nyepi pada Tilem Kesanga bukan hanya sah secara tradisi, tetapi juga paling tepat secara kosmologis, teologis, dan ekologis. Nyepi menemukan makna terdalamnya ketika manusia berhenti bergerak bukan karena aturan sosial, melainkan karena semesta memang sedang meminta keheningan.

22-10-2019.

___________




Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud