Langsung ke konten utama

Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026

Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


​Dalam sebuah ruang kelas matematika, tidak pernah ada guru yang bertanya, "Anak-anak, ayo jawab dengan jujur, berapa lima tambah lima?" Pertanyaan itu terdengar konyol karena dalam sains dan logika, 5 + 5 = 10 bukan karena kita bersikap jujur, melainkan karena itu adalah faktual. Sains tidak butuh kejujuran moral; ia hanya butuh kebenaran objektif. Itulah sifat sains: ia apa adanya.

Sains Adalah Amoral: Dunia Tanpa Penghakiman

​Sains, pada intinya, adalah upaya manusia untuk memotret realitas tanpa melibatkan perasaan. Alam semesta bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat atau konsekuensi, bukan berdasarkan norma "baik" atau "buruk".

​Ambil contoh harimau yang memangsa kambing. Secara sains, yang terjadi hanyalah transfer energi biologis demi kelangsungan hidup. Tidak ada yang "jahat" dalam kejadian itu. Harimau tidak bisa dipaksa makan bayam hanya karena alasan moralitas vegan. Sistem biologisnya memang dirancang sebagai pemakan daging. Jika kita memaksakan nilai "kasihan" kepada harimau, kitalah yang sedang melawan fakta sains dan hukum alam.

Ego di Balik Label Moral: Kritik terhadap Fenomena Herbivora

​Masalah sering muncul saat manusia merasa nilai atau perasaannya adalah yang paling benar. Saat ini, banyak "pendakwah" gaya hidup herbivora atau vegan yang memaksakan nilai moral mereka ke dalam ranah biologis. Mereka berargumen bahwa nenek moyang kita dulu hanya makan tumbuh-tumbuhan.

​Secara sains, argumen ini lemah. Benar bahwa jauh di masa lalu nenek moyang kita mungkin hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, bahkan sebelumnya mungkin hanya mengonsumsi belerang. Namun, manusia saat ini adalah organisme yang membutuhkan protein hewani untuk fungsi otak dan tubuh yang optimal. Menganggap diri "paling api" atau paling suci hanya karena pilihan diet adalah sebuah nilai subjektif, bukan fakta sains. Sains tidak mengenal "paling baik", ia hanya mengenal kebutuhan nutrisi dan konsekuensi biologis.

New Moon adalah Tilem: Fakta Astronomi vs Rumusan Tradisi

​Kesalahpahaman antara fakta dan nilai ini juga terlihat jelas dalam penentuan hari raya di Bali. Mari kita bedah fenomena Tilem Sasih Kesanga tahun 2026.

​Secara sains (astronomi), New Moon adalah Tilem. Ini adalah fase di mana Bulan berada di posisi rampa cahaya (konjungsi) sehingga tidak terlihat dari Bumi. Namun, lihatlah perbedaan data berikut:

  • Secara Sains (Fakta Astronomi): New Moon atau Tilem secara presisi jatuh pada tanggal 19 Maret 2026. Ini adalah data mati berdasarkan posisi geometris benda langit.
  • Secara Tradisi (Nilai/Rumusan): Berdasarkan rumusan Eka Sungsang ke Paing, Tilem Sasih Kesanga ditetapkan pada tanggal 18 Maret 2026.

​Di sini kita melihat dikotomi yang nyata. Sains tidak akan berubah hanya karena manusia memiliki rumusan tertentu. Bulan akan tetap berada pada fase New Moon secara astronomis pada tanggal 19 Maret. Alam semesta tidak mengenal hari baik atau buruk; ia hanya mengenal posisi presisi. Bahwa manusia merayakannya di tanggal 18 Maret, itu adalah urusan "nilai" dan kepentingan manusia, bukan fakta alam semesta.

Kesimpulan

​Baik dan buruk itu tidak ada di alam semesta secara sains. Alam hanyalah rangkaian konsekuensi. Kitalah yang menciptakan nilai tersebut berdasarkan kepentingan manusia dan cara kerja otak kita. Jika kita ingin memahami dunia dengan jernih, kita harus berani memisahkan antara data fakta dengan perasaan subjektif.

​Sains tidak mengenal dosa; ia hanya mengenal data. Dan bagi manusia yang ingin berpikir jernih, menghargai fakta apa adanya—termasuk fakta biologis dan astronomis—adalah langkah awal menuju kedewasaan berpikir.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...