Langsung ke konten utama

Membaca Jejak Tuhan dalam Diri

Membaca Jejak Tuhan dalam Diri: Sebuah Refleksi Mewujud

Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


​Pernahkah kita terdiam sejenak di hadapan sebongkah batu karang yang sunyi, atau menatap mata seorang manusia dengan penuh kesadaran, lalu bertanya dalam batin: Di manakah sesungguhnya batas antara aku, alam, dan Tuhan?

​Selama ini, kita kerap mewarisi gambaran Tuhan sebagai Pencipta yang jauh—seolah-olah Beliau berada di luar jagat raya, membuat dunia dari kejauhan, lalu membiarkannya berjalan sendiri. Ibarat seorang perajin yang membentuk bokor: setelah selesai dikerjakan, lalu dilepaskan begitu saja. Namun, kebijaksanaan luhur kita dalam Tattwa Jnana mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendalam: Tuhan tidak mencipta dengan jarak; Beliau mewujud dengan kehadiran. Sang Hyang Widhi tidak berdiri di luar alam semesta—Beliau meresapi, menjiwai, dan menjadi semesta itu sendiri.

​Antara Wujud dan Sejati

​Bayangkan sebuah patung yang diukir indah. Bagi mata awam, itu adalah Garuda. Namun bagi pemahat yang paham hakikat, patung itu tetaplah kayu. Demikian pula alam semesta. Segala yang tampak—manusia, tumbuhan, batu, api—adalah Wujud (Saguna), sementara hakikatnya adalah Kesadaran Ilahi yang sama (Nirguna). Dalam ajaran Tattwa, ini dipahami sebagai Atman–Paramatman Aikyam: kesatuan mutlak antara jiwa individu dan Kesadaran Agung. Tuhan hadir sepenuhnya dalam setiap bentuk; tidak ada satu pun sudut di jagat raya ini yang kosong dari kehadiran-Nya.

​Alam sebagai Getaran Kesadaran

​Leluhur Bali memahami alam sebagai getaran yang hidup. Selaras dengan fisika kuantum modern, energi tidak pernah diciptakan dari ketiadaan dan tidak pernah musnah; ia hanya berubah wujud. Api adalah wujud-Nya yang panas, cahaya adalah wujud-Nya yang menerangi, dan batu adalah wujud-Nya yang tenang. Karena itu, alam tidak pernah diperlakukan sebagai benda mati. Ketika bumi dihaturkan sesaji, itu adalah bentuk pengakuan bahwa bumi adalah perwujudan nyata Tuhan yang memberi ruang hidup—sebuah kesadaran kosmis, bukan sekadar takhayul.

Lakon Korupsi: Antara Kehendak Dalang dan Salah Frekuensi

​Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: Jika segala sesuatu adalah perwujudan Tuhan, mengapa ada kejahatan seperti korupsi? Apakah Tuhan ikut korupsi?

​Di sinilah peran Tattwa Jnana menjelaskan fenomena tersebut melalui analogi Lakon Wayang dan Hukum Resonansi. Tuhan adalah Sang Dalang sekaligus penyedia seluruh spektrum frekuensi energi.

  1. ​Skenario Sang Dalang: Dalam sebuah lakon, Dalang menggerakkan ksatria yang luhur dan tokoh yang licik (koruptor) sekaligus. Tokoh jahat lahir sebagai bagian dari dinamika permainan suci (Lila) untuk menjaga keseimbangan cerita. Tanpa kegelapan, cahaya tidak akan memiliki makna.

  2. ​Salah Frekuensi: Korupsi terjadi ketika manusia mengalami "Amnesia Spiritual". Secara energi, korupsi itu "sah" karena menggunakan energi Tuhan, namun si oknum sedang berada pada frekuensi vibrasi yang paling rendah. Ia merasa terpisah dari sesamanya, sehingga merasa bisa bahagia dengan cara merugikan orang lain.

  3. ​Hukum Karma Phala: Tuhan tidak menghukum koruptor dengan petir dari langit secara otoriter. Melalui hukum resonansi, getaran negatif yang dipancarkan koruptor akan memantul kembali kepada dirinya sendiri. Tuhan tidak menghukum—Beliau hanya menjaga agar hukum keselarasan tetap bekerja secara adil.

​Atma–Paramatman Aikyam: Kesadaran Tanpa Kesombongan

​Kesatuan Atman dan Paramatman bukan berarti manusia setara Tuhan secara ego. Sebaliknya, ia adalah pengakuan paling rendah hati: bahwa napas dan pikiran ini hanyalah sarana bagi Tuhan untuk mewujud. Dalam kesadaran ini, korupsi menjadi mustahil dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin tangan kanan mencuri dari tangan kiri jika ia sadar keduanya milik satu tubuh yang sama? Menghina atau merugikan manusia lain berarti merusak wujud Tuhan yang sedang hadir dalam rupa yang berbeda.

​Kembali ke Kesadaran Hidup

​Zaman modern mencoba menghapus jejak Tuhan dalam benda-benda, mengubah alam menjadi objek produksi dan manusia menjadi sekadar angka. Padahal, ajaran leluhur mengingatkan: Tuhan mewujud dalam setiap yang hidup.

​Setiap langkah kita di bumi adalah penghormatan, dan setiap tindakan jujur adalah bentuk bakti yang nyata. Jagat raya ini berjalan dalam skenario Ilahi, namun kita dianugerahi kesadaran untuk memilih: terus hidup dalam ilusi keterpisahan yang melahirkan keserakahan, atau kembali menyelaraskan diri dalam harmoni Tri Hita Karana.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...