Langsung ke konten utama

Menelusuri Jejak Jiwa Melalui Hipotesis Kuantum dan Ritme Kosmik 2026

​Refleksi Kesadaran: Menelusuri Jejak Jiwa Melalui Hipotesis Kuantum dan Ritme Kosmik 2026

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba


"Sains dan spiritualitas bertemu bukan dalam klaim fisik yang kaku, melainkan dalam korespondensi makna."

​Pendahuluan

​Pertanyaan mengenai hakikat kematian selalu menjadi misteri terbesar manusia. Dalam perspektif spiritual, kematian sering dipahami sebagai perubahan keadaan kesadaran, sementara sains modern mulai membuka kemungkinan bahwa kesadaran tidak sepenuhnya tereduksi hanya pada mekanisme biologis semata. Salah satu pemikiran yang menjembatani kedua dunia ini adalah hipotesis Orch-OR (Orchestrated Objective Reduction).

​Mikrotubulus: Antena Metaforis Kesadaran

​Hipotesis Orch-OR, yang dikembangkan oleh fisikawan Roger Penrose bersama ahli anestesi Stuart Hameroff, mengusulkan bahwa kesadaran mungkin melibatkan proses kuantum di dalam mikrotubulus—struktur penyangga di dalam neuron sel otak. Meskipun hal ini masih menjadi perdebatan dalam sains modern dan merupakan hipotesis spekulatif, gagasan ini membuka ruang refleksi baru tentang hakikat kesadaran.

​Di titik ini, sains dan spiritualitas bertemu bukan dalam klaim fisik yang kaku, melainkan dalam korespondensi makna. Dalam perspektif metaforis spiritual, mikrotubulus dapat dibayangkan sebagai "antena" kesadaran yang selaras dengan konsep Atman dalam Panca Sraddha.

​Ritme Kosmik: Memaknai Supermoon 2026

​Berdasarkan pengamatan astronomi melalui aplikasi Daff Moon, tahun 2026 mencatat beberapa fenomena Perigee (Supermoon), di mana bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi:

·        ​3 Januari 2026 (18:03): 362.300 km

·        ​24 November 2026 (22:53): 360.755 km

·        ​24 Desember 2026 (09:28): 356.729 km

​Secara fisik, selisih gaya gravitasi saat Supermoon memang sangat kecil. Namun, dalam penghayatan spiritual, titik Perigee dapat dipahami sebagai simbol ritme kosmik. Sejak lama, manusia menggunakan posisi benda langit sebagai acuan dalam menandai momen sakral, di mana manusia lebih mudah memaknainya sebagai momen keterhubungan kosmis.

​Tilem: Fase Purifikasi dan Titik Nol

​Sebagai penyeimbang dari energi Supermoon, fase New Moon atau Tilem hadir sebagai fase "Zero Point" dalam ritme kosmik. Jika Supermoon dimaknai sebagai fase ekspansi, maka Tilem adalah momen purifikasi atau penyucian kembali. Dalam keheningan cahaya bulan, kesadaran manusia diajak untuk melakukan refleksi mendalam, membuang "noise" atau gangguan informasi batin, guna mencapai kejernihan yang murni sebelum memulai siklus baru.

​Panca Sraddha dan Kesinambungan Kesadaran

​Landasan keyakinan Hindu, Panca Sraddha, memberikan kerangka filosofis yang kuat terhadap fenomena ini:

1.      ​Widhi Tattwa: Keyakinan akan adanya sumber kesadaran absolut.

2.      ​Atman Tattwa: Kesadaran sebagai entitas yang tidak terbatas pada materi fisik.

3.      ​Karmaphala: Hukum sebab-akibat moral yang membentuk jejak kesadaran.

4.      ​Punarbawa: Reinkarnasi dianalogikan sebagai kesinambungan pola kesadaran—kelanjutan jejak karma, bukan sekadar pemindahan data fisik mekanistik.

5.      ​Moksha: Puncak dari evolusi kesadaran menuju kemanunggalan.

​24 Desember 2026: Momentum Memukur

​Upacara Memukur merupakan simbol penyucian Atman untuk kembali ke asalnya. Dengan memilih waktu pada 24 Desember 2026, kita menyelaraskan upacara sakral ini dengan titik terdekat bulan (356.729 km). Pemilihan waktu ini bukan didasarkan pada paksaan fisik gravitasi, melainkan pada penghayatan bahwa keharmonisan alam semesta adalah pendukung terbaik bagi perjalanan spiritual jiwa.

​Kesimpulan

​Menelusuri hubungan antara kuantum dan jiwa menuntut kita untuk tetap rendah hati. Meskipun Orch-OR masih bersifat spekulatif dan mikrotubulus secara biologis adalah bagian dari struktur sel, analogi ini membantu kita merenungi keberadaan Atman. Kematian mungkin bukan penutup kehidupan, melainkan perubahan horizon kesadaran yang tak berhenti bergerak dalam ritme kosmik semesta.

​Referensi

·        ​Hameroff, S., & Penrose, R. (2014): Diskusi mengenai hipotesis Orch-OR dalam Physics of Life Reviews.

·        ​Daff Moon App (2026): Data astronomi waktu dan jarak Perigee tahun 2026.

·        ​Panca Sraddha: Lima dasar keyakinan dalam filsafat agama Hindu.

Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...