Rahasia Pura Uluwatu: Perspektif Siwa-Siddhanta & Jejak Dang Hyang Nirartha
Di ujung selatan Pulau Bali, pada tebing karang yang menjulang tegak menghadap samudra tak berbatas, berdirilah Pura Uluwatu. Bagi banyak orang, ia adalah destinasi wisata kelas dunia. Namun bagi pencari batin, Uluwatu adalah penanda batas antara kesadaran manusia dan kemahaluasan alam. Di tempat inilah angin, laut, dan langit seakan bersepakat menjaga sebuah rahasia tua yang diwariskan oleh zaman.
Dharmayatra dan Titik Sunyi Dang Hyang Nirartha
Uluwatu tidak dapat dilepaskan dari perjalanan suci Dang Hyang Nirartha, Sang Resi Agung yang dalam tradisi Bali dikenal pula sebagai Ida Batara Sakti Wawu Rauh. Kedatangan beliau ke Bali pada abad ke-16 bukanlah perjalanan biasa, melainkan Dharmayatra: sebuah ziarah spiritual untuk menata kembali harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dikisahkan, di tebing karang yang berhadapan langsung dengan kekuatan samudra inilah beliau merasakan bahwa perjalanan ragawinya telah paripurna. Sebelum mencapai puncak kesadaran, beliau bertemu Ki Bendega, seorang nelayan sederhana. Kepadanyalah Sang Resi menitipkan pusaka berupa naskah suci untuk diserahkan kepada putra beliau di Desa Mas, Ubud. Ki Bendega menjadi saksi tunggal sebuah peristiwa agung: tubuh Sang Resi perlahan lenyap menjadi cahaya, menyatu dengan semesta dalam peristiwa Moksha.
Sejak saat itu, masyarakat meyakini bahwa Uluwatu menyimpan energi kesadaran. Goa yang disebut Pelataran Karang Suci di dasar tebing bukanlah ruang untuk dijelajahi secara fisik, melainkan simbol rahim kosmis—tempat keseimbangan unsur darat, laut, dan langit dijaga dengan sangat rahasia.
Membaca Uluwatu dalam Perspektif Siwa-Siddhānta
Dalam kerangka berpikir Siwa-Siddhānta, kisah-kisah suci di Uluwatu bukanlah sekadar mitos, melainkan bahasa simbol untuk menjelaskan hubungan antara Pati (Tuhan), Paśu (Jiwa), dan Pāśa (Belenggu).
1. Jivanmukta: Pembebasan di Sini dan Saat Ini
Dang Hyang Nirartha adalah seorang Jivanmukta—seseorang yang telah mencapai pembebasan saat masih hidup. Peristiwa Moksha beliau di Uluwatu tidak boleh dibaca sebagai hilangnya tubuh secara misterius saja, melainkan sebagai luluhnya ikatan Pāśa (belenggu duniawi) sehingga Atman sepenuhnya menyatu dengan Siwa. Inilah makna sejati manunggal.
2. Guha Hridaya: Goa di Dalam Diri
Goa atau Pelataran Karang Suci dalam Tattwa melambangkan Guha Hridaya—ruang batin terdalam manusia. Siwa-Siddhānta mengajarkan bahwa pusat kesucian tidak berada di luar diri. Pintu yang hanya terbuka saat laut surut melambangkan bahwa kesadaran hanya dapat diakses ketika gelombang Indriya (indra) dan nafsu manusia mereda.
3. Tri Tattwa: Tiga Batu Karang Bertuah
Tiga batu karang yang dipercaya sebagai paku bumi Bali di Uluwatu dapat dibaca sebagai simbol Tri Tattwa:
Pati: Tuhan sebagai sumber kesadaran mutlak.
Paśu: Jiwa yang sedang berproses.
Pāśa: Ikatan karma yang harus dilepaskan.
Keseimbangan Bali bukan dijaga oleh kekuatan magis semata, melainkan oleh keselarasan pemahaman manusia terhadap ketiga prinsip ini.
Penutup: Rahasia yang Belum Terbuka
Monyet-monyet "Prajurit Karang" dan ombak ganas Dewa Baruna adalah peringatan halus bahwa kesucian tidak dapat didekati dengan ambisi. Alam tidak menolak manusia, tetapi ia selalu menolak keserakahan.
Pura Uluwatu adalah penanda kosmologis yang mengingatkan bahwa manusia hidup di antara dua jurang: kesadaran dan keangkuhan. Dang Hyang Nirartha meninggalkan warisan berupa pola kesadaran, agar manusia senantiasa ingat bahwa tujuan akhir beragama bukanlah untuk meminta, melainkan untuk menyadari.
Rahasia sejati Uluwatu bukan terletak pada apa yang tersembunyi di balik tebing karang, melainkan pada apa yang belum terbuka di dalam diri kita masing-masing.
08-02-2016
Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba