Langsung ke konten utama

Membaca Ulang Panglantala Kalender Bali: Transformasi dari Eka Sungsang ke Paing Menuju Eka Sungsang ke Umanis

Membaca Ulang Panglantala Kalender Bali: Transformasi dari Eka Sungsang ke Paing Menuju Eka Sungsang ke Umanis

Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba

​Kalender Bali merupakan hasil refleksi mendalam para leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia bukan sekadar hitungan angka, melainkan penataan ritme spiritual yang menyelaraskan kehidupan umat dengan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Sebagai sistem yang "hidup", kalender ini memerlukan penyelarasan berkala agar tetap relevan dengan realitas astronomis saat ini.

​Masalah pada Sistem Koreksi Saat Ini

Panglantala adalah inti dari mekanisme koreksi dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan sebagai acuan penentuan Tilem. Namun, jika dibandingkan dengan fase New Moon (Bulan Baru) secara astronomis, terlihat selisih yang signifikan.

​Analisis satu siklus penuh selama 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa hanya sekitar 45% Tilem yang selaras, sementara sisanya (55%) jatuh satu hari lebih awal dari fenomena alam yang sebenarnya.

​Solusi: Memajukan Sistem Panglantala

​Solusi yang tepat bukanlah memundurkan hari secara manual, melainkan memajukan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menjadi Eka Sungsang ke Umanis. Pergeseran sistemik ini memastikan kalender tetap harmoni dengan peredaran alam tanpa mencederai nilai ritual maupun warisan leluhur.

​Berikut adalah perbandingan akurasi antara sistem lama dengan usulan sistem baru:

Kesimpulan

​Data di atas membuktikan bahwa dengan memperbarui Panglantala ke Eka Sungsang ke Umanis, hampir seluruh selisih waktu dengan alam dapat dihilangkan. Langkah ini adalah bentuk penghormatan terhadap Wariga sebagai ilmu semesta, guna menjaga harmoni antara manusia (Mikrokosmos), alam (Makrokosmos), dan waktu suci.

Om Santih, Santih, Santih Om


Lampiran

Tahun

New Moon (Astronomi)

Pola Paing (Lama)

Pola Umanis (Baru)

2013

12 Maret

11 Maret (-1)

12 Maret (Pas)

2014

31 Maret

30 Maret (-1)

31 Maret (Pas)

2015

20 Maret

20 Maret (0)

20 Maret (Pas)

2016

09 Maret

08 Maret (-1)

09 Maret (Pas)

2017

28 Maret

27 Maret (-1)

28 Maret (Pas)

2018

17 Maret

16 Maret (-1)

17 Maret (Pas)

2019

07 Maret

06 Maret (-1)

07 Maret (Pas)

2020

24 Maret

24 Maret (0)

24 Maret (Pas)

2021

13 Maret

13 Maret (0)

13 Maret (Pas)

2022

03 Maret

02 Maret (-1)

03 Maret (Pas)

2023

22 Maret

21 Maret (-1)

22 Maret (Pas)

2024

10 Maret

10 Maret (0)

10 Maret (Pas)

2025

29 Maret

28 Maret (-1)

29 Maret (Pas)

2026

19 Maret

18 Maret (-1)

19 Maret (Pas)

2027

08 Maret

07 Maret (-1)

08 Maret (Pas)

2028

26 Maret

25 Maret (-1)

26 Maret (Pas)

2029

15 Maret

14 Maret (-1)

15 Maret (Pas)

2030

04 Maret

04 Maret (0)

04 Maret (Pas)

2031

23 Maret

23 Maret (0)

23 Maret (Pas)



Postingan Populer

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...