Fungsi Sasih dalam Pelaksanaan Yadnya Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Di tengah kemegahan upacara yang semakin hari semakin besar, muncul sebuah kegelisahan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Mengapa kemegahan itu tidak berbanding lurus dengan perubahan karakter manusia? Seharusnya, ketika yadnya semakin utama, manusia semakin halus budinya, semakin jernih pikirannya, dan semakin selaras tindakannya. Namun kenyataan yang tampak justru berbeda. Percekcokan masih terjadi, bahkan di lingkungan pura. Tempat suci yang semestinya menjadi pusat penyucian, belum sepenuhnya mampu meredam gejolak batin manusia. Di sisi lain, tanda-tanda alam juga berbicara dengan caranya sendiri. Pura terbakar, sampah kian menumpuk dan sulit ditangani, banjir datang berulang, dan dinamika sosial akibat pertumbuhan penduduk pendatang semakin terasa. Semua ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mungkin telah bergeser dari dasarny...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli