Mata: Gerbang Cahaya, Gerbang Keinginan
Ketika
seorang bayi lahir, salah satu keajaiban pertama yang perlahan terjadi adalah
matanya mulai membuka diri terhadap dunia.
Mula-mula
ia hanya melihat cahaya.
Kemudian
warna.
Lalu
bentuk.
Wajah
ibunya menjadi pemandangan pertama yang mulai dikenalnya. Dari situlah perlahan
ia belajar bahwa dunia ini ada, bahwa kehidupan sedang menyambut kedatangannya.
Sejak
saat itu, mata menjadi sahabat yang tidak pernah berhenti bekerja.
Ketika
kita terjaga, mata hampir tidak pernah beristirahat.
Ia
melihat langit yang membiru.
Ia
menikmati hijaunya dedaunan.
Ia
membaca huruf demi huruf.
Ia
mengenali wajah-wajah yang dicintai.
Ia
juga menyaksikan air mata, perpisahan, dan kematian.
Begitu
banyak pengalaman hidup memasuki hati melalui sepasang mata yang kecil ini.
Namun,
para leluhur Bali mengajarkan bahwa mata tidak hanya berfungsi untuk melihat.
Mata
adalah gerbang kesadaran.
Apa
yang dilihat oleh mata perlahan menjadi gambar di dalam pikiran.
Gambar
berubah menjadi ingatan.
Ingatan
melahirkan keinginan.
Keinginan
mendorong tindakan.
Dan
tindakan membentuk karma.
Oleh
karena itu, perjalanan karma sering kali dimulai bukan dari tangan, melainkan
dari mata.
Bhagavad
Gītā mengingatkan bahwa ketika pikiran terus-menerus melekat pada objek-objek
indria, muncullah keterikatan. Dari keterikatan lahirlah keinginan. Dari
keinginan yang terhalang muncul kemarahan. Dari kemarahan lahirlah kebingungan.
Dan dari kebingungan manusia kehilangan kebijaksanaan yang seharusnya
membimbing hidupnya.
Rangkaian
itu tampak panjang.
Namun
sering kali semuanya bermula dari satu pandangan yang tidak dijaga.
Lihatlah
kehidupan sehari-hari.
Seseorang
melihat milik orang lain.
Ia
mulai membandingkan.
Perbandingan
melahirkan rasa kurang.
Rasa
kurang melahirkan iri hati.
Iri
hati berubah menjadi kebencian.
Padahal
pada awalnya ia hanya melihat.
Mata
tidak bersalah.
Yang
menentukan adalah kesadaran orang yang menggunakannya.
Karena
itu, dalam jalan spiritual, mata tidak pernah diminta untuk ditutup selamanya.
Yang
diminta adalah membuka mata dengan cara yang berbeda.
Melihat
tanpa harus memiliki.
Mengagumi
tanpa harus menguasai.
Memperhatikan
tanpa harus menghakimi.
Di
sinilah letak latihan yang sesungguhnya.
Ketika
melihat bunga yang sedang mekar, kita dapat memilih dua sikap.
Kita
dapat memetiknya agar menjadi milik kita.
Atau
kita dapat membiarkannya tetap mekar sambil bersyukur karena telah diberi
kesempatan menikmati keindahannya.
Mana
yang lebih bijaksana?
Alam
telah menjawab pertanyaan itu sejak dahulu.
Bunga
yang dibiarkan mekar akan memberikan keindahan bagi banyak orang.
Bunga
yang dipetik hanya akan layu di tangan pemiliknya.
Demikian
pula kehidupan.
Tidak
semua yang indah harus dimiliki.
Banyak
hal cukup dinikmati dengan rasa syukur.
Mata
juga mengajarkan kejujuran.
Apa
yang kita lihat di luar sering kali hanyalah permukaan.
Air
yang tenang belum tentu dangkal.
Senyum
seseorang belum tentu menandakan hatinya sedang bahagia.
Rumah
yang megah belum tentu menyimpan kedamaian.
Pakaian
yang sederhana belum tentu dikenakan oleh orang yang miskin kebijaksanaan.
Mata
melihat bentuk.
Tetapi
hati melihat makna.
Karena
itu, manusia yang hanya mengandalkan penglihatannya sering kali mudah keliru
dalam menilai kehidupan.
Para
Rsi tidak pernah berhenti mengingatkan agar manusia belajar melihat lebih dalam
daripada apa yang tampak.
Mereka
mengajarkan bahwa mata lahir hanya mampu melihat rupa.
Tetapi
mata batin mampu melihat hakikat.
Mata
lahir dapat melihat matahari terbit.
Mata
batin melihat harapan yang lahir bersama cahaya pagi.
Mata
lahir melihat orang tua yang rambutnya memutih.
Mata
batin melihat perjalanan panjang penuh pengorbanan yang telah mereka jalani.
Mata
lahir melihat seorang pengemis di pinggir jalan.
Mata
batin melihat sesama Atman yang sedang menjalani buah karmanya.
Inilah
sebabnya mengapa kebijaksanaan selalu dimulai dari cara kita melihat.
Jika
cara melihat berubah, seluruh kehidupan ikut berubah.
Orang
yang penuh syukur melihat kesempatan di balik kesulitan.
Orang
yang dipenuhi kemarahan melihat musuh di mana-mana.
Orang
yang dipenuhi kasih melihat saudara di dalam setiap manusia.
Dunia
yang mereka lihat sesungguhnya sama.
Yang
berbeda adalah mata batin yang memandangnya.
Ada
sebuah kebiasaan yang semakin banyak terjadi pada zaman sekarang.
Mata
manusia hampir tidak pernah benar-benar beristirahat.
Sejak
bangun pagi hingga menjelang tidur, mata terus menatap layar.
Berita
datang silih berganti.
Gambar
berubah setiap detik.
Video
demi video mengalir tanpa henti.
Tanpa
disadari, mata menerima ribuan kesan dalam satu hari.
Namun
batin tidak selalu mampu mencerna semuanya.
Akibatnya,
pikiran menjadi lelah.
Hati
menjadi gelisah.
Kesadaran
menjadi mudah tercerai-berai.
Bukan
karena mata salah.
Tetapi
karena gerbang itu tidak lagi memiliki penjaga.
Di
masa lalu, seseorang berjalan keluar rumah untuk melihat dunia.
Hari
ini, dunia masuk ke dalam rumah melalui sebuah layar kecil.
Karena
itu, menjaga mata menjadi jauh lebih penting daripada sebelumnya.
Bukan
berarti menolak kemajuan.
Bukan
pula menjauhi teknologi.
Melainkan
menggunakan mata dengan penuh kesadaran.
Memilih
apa yang layak dilihat.
Memilih
apa yang pantas disimpan dalam ingatan.
Memilih
apa yang sungguh memberi nutrisi bagi jiwa.
Sebab
sebagaimana tubuh membutuhkan makanan yang sehat, pikiran pun membutuhkan
penglihatan yang sehat.
Apa
yang setiap hari kita lihat perlahan menjadi bagian dari diri kita.
Jika
mata dipenuhi kekerasan, hati perlahan menjadi keras.
Jika
mata dipenuhi keserakahan, pikiran mulai merasa tidak pernah cukup.
Sebaliknya,
jika mata dibiasakan memandang keindahan alam, senyum anak-anak, wajah orang
tua, cahaya matahari pagi, dan kehidupan yang sederhana, hati akan belajar
bersyukur tanpa dipaksa.
Mungkin
inilah salah satu alasan mengapa para leluhur Bali begitu dekat dengan alam.
Mereka
tidak hanya melihat gunung sebagai gunung.
Mereka
melihatnya sebagai lambang keteguhan.
Mereka
tidak hanya melihat sungai sebagai aliran air.
Mereka
melihatnya sebagai pelajaran tentang ketulusan memberi kehidupan.
Mereka
tidak hanya melihat matahari sebagai benda langit.
Mereka
melihatnya sebagai simbol cahaya pengetahuan yang mengusir kegelapan batin.
Ketika
mata belajar melihat dengan cara seperti itu, seluruh alam berubah menjadi
guru.
Tidak
ada lagi hari yang biasa.
Tidak
ada lagi peristiwa yang sia-sia.
Segala
sesuatu menjadi pelajaran.
Segala
sesuatu menjadi wahyu yang diam-diam sedang disampaikan oleh Sang Hyang Widhi.
Mata
akhirnya tidak lagi menjadi gerbang keinginan.
Ia
berubah menjadi gerbang kebijaksanaan.
Namun
perjalanan menjaga candi diri belum selesai.
Masih
ada gerbang lain yang bekerja tanpa henti, bahkan ketika mata terpejam.