Langsung ke konten utama

 

Memahami Sifat Manusia dalam Kearifan Hidup Bal

Orang Bali memiliki sebuah ungkapan yang sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam: ngelah rasa, ngelah tatwam asi, nanging tusing dadi polos. Memiliki rasa, memiliki kasih sayang kepada sesama, tetapi jangan sampai kehilangan kebijaksanaan.

Sejak kecil, kita diajarkan untuk hidup dalam semangat Tri Hita Karana, menjaga keharmonisan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Kita diajarkan saling membantu dalam suka maupun duka, bergotong royong saat ada upacara, menghadiri undangan tetangga, serta ikut ngayah tanpa mengharapkan imbalan.

Nilai-nilai itu adalah warisan yang sangat luhur. Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa tidak semua orang memiliki hati yang sama. Ada yang menghargai ketulusan, tetapi ada pula yang melihat kebaikan sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Karena itulah, menjadi orang Bali yang baik bukan berarti menjadi orang yang mudah dimanfaatkan.

Lontar-lontar Hindu di Bali tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci sesama. Sebaliknya, ajaran Dharma mengajarkan agar kita menghormati setiap orang sesuai tempat dan keadaannya. Tetapi Dharma juga mengajarkan viveka, yaitu kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang patut dipercaya dan mana yang harus diwaspadai.

Dalam kehidupan bermasyarakat di Bali, kita sering mendengar istilah menyama braya. Semua dipandang sebagai saudara. Namun, menyama braya bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan bahwa setiap manusia memiliki sifat, kepentingan, dan tingkat kesadaran yang berbeda-beda.

Ada orang yang ketika ditolong akan semakin tahu berterima kasih. Ada pula yang justru semakin banyak menuntut. Ada yang menghargai kepercayaan, tetapi ada juga yang menyalahgunakan kepercayaan itu.

Karena itu, orang tua Bali dahulu sering mengingatkan agar kita berbuat baik kepada siapa saja, tetapi jangan menyerahkan seluruh hidup kepada siapa saja.

Dalam kehidupan adat, kita juga belajar bahwa keseimbangan jauh lebih penting daripada sikap yang berlebihan. Terlalu keras membuat kita dijauhi. Terlalu lembut membuat kita mudah diinjak. Jalan tengah selalu menjadi pilihan yang paling bijaksana.

Begitu pula dalam urusan harta dan pekerjaan. Membantu orang lain adalah perbuatan mulia. Namun, bantuan yang tidak disertai kebijaksanaan kadang justru merusak hubungan. Tidak sedikit persaudaraan yang renggang hanya karena persoalan utang atau janji yang tidak ditepati. Karena itu, sebelum memberi bantuan, gunakanlah hati sekaligus pikiran. Belas kasih harus berjalan bersama pertimbangan.

Dalam kehidupan banjar, kita juga belajar menjaga ucapan. Tidak semua persoalan perlu diceritakan kepada banyak orang. Semakin banyak mulut yang mendengar, semakin banyak pula tafsir yang muncul. Orang-orang tua dahulu lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mereka percaya bahwa kehormatan seseorang lebih ditentukan oleh tindakannya daripada kata-katanya.

Kearifan Bali juga mengajarkan agar kita tidak mudah menilai seseorang hanya dari senyum atau tutur katanya. Waktu adalah penguji yang paling jujur. Karakter seseorang akan terlihat ketika ia memiliki kekuasaan, ketika ia memperoleh keuntungan, atau ketika ia menghadapi kesulitan. Saat itulah watak asli perlahan muncul.

Demikian pula ketika kita memperoleh keberhasilan. Orang tua Bali sering mengingatkan agar tidak adigang, adigung, adiguna—tidak menyombongkan kekuatan, kedudukan, ataupun kepandaian. Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kuat angin yang menerpanya. Kerendahan hati bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama, tetapi juga menjaga diri dari rasa iri dan dengki yang mungkin muncul di sekitar kita.

Pada akhirnya, memahami sifat manusia bukanlah agar kita menjadi pribadi yang penuh curiga. Bukan pula agar kita pandai memperhitungkan orang lain. Tujuannya adalah agar kita mampu menjalankan Dharma dengan benar.

Kita tetap menolong, tetapi tidak membiarkan diri dimanfaatkan.

Kita tetap memaafkan, tetapi tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kita tetap menghormati semua orang, tetapi tidak kehilangan harga diri.

Inilah keseimbangan yang diajarkan dalam kehidupan Bali. Hati tetap lembut, pikiran tetap jernih, dan tindakan tetap bijaksana.

Sebab orang yang benar-benar kuat bukanlah mereka yang mampu mengalahkan banyak orang. Orang yang benar-benar kuat adalah mereka yang mampu menjaga ketulusan hatinya di tengah berbagai watak manusia, tanpa kehilangan kebijaksanaan dalam menjalani hidup.

Itulah makna hidup yang selaras dengan Dharma: tetap menjadi pribadi yang penuh kasih, tetapi juga memiliki viveka, kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus memberi, kapan harus menahan diri, kapan harus mendekat, dan kapan harus menjaga jarak.

Karena dalam kehidupan masyarakat Bali, keharmonisan tidak dibangun oleh kepolosan, melainkan oleh keseimbangan antara kasih sayang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Itulah warisan leluhur yang patut terus kita jaga.


Septemner 2011

Oleh :Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba

Postingan Populer

Tirtayatra PHDI KAB BANGLI. Madura, Kenjeran Bromao

Pediksan di desa Karangsuwung Tembuku Bangli

U

Piodalan di Pura Pesraman Dharmawasita Capung Mas Ubud Gianyar Bali

Paruman Mawosang Karya Ring Pelinggih Ida Betara Siwa Budha Pesaraman Dharmawasita Mas Ubud

Dharama Santhi Dharmopadesa di Pesraman Dharma wasita Mas Ubud

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu. ​Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening ​Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian . Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci: ​ “Mwah ri tekaning Tilĕming Kasangha, tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur, mwang Nyĕpi sadintĕn.” ​Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tilem...

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...