Menemukan Nurani dalam Adat: Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Kematian sejatinya bukan peristiwa yang mengotori kehidupan, melainkan bagian paling jujur dari kehidupan itu sendiri. Ketika seorang manusia mengembuskan napas terakhir, yang tersisa bukanlah cemar, melainkan sebuah raga yang telah menyelesaikan tugas baktinya di dunia. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali nurani berhadapan dengan tembok adat yang menegang. Seolah-olah kematian adalah sebuah "noda" yang harus segera dijauhkan agar kesucian sebuah ritual atau yadnya tidak terusik. Padahal, jika kita merenung dengan jernih, yadnya justru lahir untuk memuliakan kehidupan, bukan untuk menyingkirkan kemanusiaan. Kesetaraan dalam Pandangan Tat Twam Asi Sering terjadi ketimpangan rasa ketika kita memandang kematian. Di satu sisi, adat begitu keras menjaga jarak dengan jenazah manusia karena dianggap membawa kekotoran ( cemer ). Namun di si...
Fondasi Sebelum Bicara Waktu Nyepi Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Om Swastyastu, I. Pendahuluan: Harmoni dalam Ketepatan Dalam tradisi Hindu Bali, ketepatan waktu ( Kala ) bukan sekadar angka di kalender, melainkan instrumen penting untuk menjaga keselarasan antara laku keagamaan dan tatanan kosmik ( Ṛta ). Pelaksanaan upacara besar seperti Tawur Kesanga dan Hari Raya Nyepi menuntut pijakan waktu yang selaras dengan gerak alam semesta. Lontar Uttara Kanda mengingatkan kita: “Kala-yoga pramāṇanipun, kriyā-yoga nityasanipun, jñāna-yoga nirmalanipun.” Kutipan ini menegaskan bahwa ketepatan waktu adalah ukuran sahnya sebuah ritual. Ketidaktepatan memang tidak menghapus makna yajña , namun dapat mengganggu keselarasan kosmik yang seharusnya dijaga. II. Dialektika Gaṇita dan Dr̥kā Tradisi Bali memiliki sistem Panglantaka yang luhur dengan rumus Eka Sungsang Kapaing . Namun, penting untuk diingat bahwa tradisi kita juga mengenal prinsip Dr̥kā Siddhānta —sebuah keharusan untuk mengu...