Fondasi Sebelum Bicara Waktu Nyepi Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Pendahuluan Hari Raya Nyepi adalah peristiwa sakral yang berkaitan langsung dengan ritme alam semesta ( ṛta ). Namun, penentuan waktunya sering kali terjebak dalam kebiasaan administratif. Melalui lensa kosmologi dan astronomi presisi, artikel ini mendekonstruksi pemahaman umum dan mengusulkan bahwa Nyepi adalah puncak Peyogan yang berjangkar pada Tilem Kesanga , titik nol yang memisahkan fase peleburan ( Pralina ) dengan fase kebangkitan berkah ( Utpati ). Sasih Kapitu hingga Kesanga: Perjalanan Peyogan Sebagaimana tersirat dalam Lontar Sunari Gama , persiapan spiritual dimulai sejak Sasih Kapitu . Sasih Kapitu: Awal Peyogan (Bulan tanpa cahaya). Sasih Kesanga: Puncak dinamika energi Bhuta . Nyepi di sini adalah mekanisme kosmis untuk meredam gejolak melalui Sunya (keheningan total). Tilem Kesanga sebagai Puncak, Kadasa sebagai Berkah Tilem Kesanga adalah Titik Nol: Momentum pal...
Mengapa Ketepatan Kosmik Adalah Harga Mati? Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Nyepi dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar hari tanpa aktivitas, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang berdiri di atas ketepatan waktu, kejernihan makna, dan keselarasan manusia dengan hukum alam semesta ( Ṛta ). Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan Nyepi dan Tawur Kesanga kini dibayangi oleh satu akar masalah utama: kekeliruan filologis dalam membaca, menyalin, dan menerjemahkan teks lontar kuno. Kesalahan ini tampak kecil pada tingkat kata, tetapi berakibat besar pada runtuhnya logika kosmologi ritual kita. 1. Krisis Filologis: Bahaya Salah Salin Teks Dalam beberapa salinan Lontar Sundarigama yang beredar, istilah-istilah kunci mengalami pergeseran makna karena penyalinan yang dilakukan secara fonetis (berdasarkan bunyi), bukan filologis. Dibuh Mute vs Dikupun: Dalam teks autentik, digunakan istilah Dibuh Mute yang berarti pembakaran tuntas atau pemralinaan total. Namun...