Nyepi sebagai Peristiwa Kosmologis dan Pranata Adat Bali Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Pendahuluan Nyepi merupakan praktik religius khas Bali yang tidak dapat dilepaskan dari kosmologi Hindu Bali dan sistem adat yang menopangnya. Ia bukan sekadar hari libur keagamaan, melainkan sebuah peristiwa kosmis yang mengintegrasikan kesadaran spiritual, keteraturan alam, dan tatanan sosial. Oleh karena itu, pembahasan Nyepi harus diletakkan secara proporsional antara teks sastra, kosmologi, dan kewenangan adat. Naskah posisi ini bertujuan untuk mempertegas kerangka pemahaman Nyepi agar tidak terjadi multitafsir, khususnya terkait waktu pelaksanaan dan relasi kewenangan antara teks lontar, lembaga keagamaan, dan lembaga adat Bali. Landasan Kosmologis Dalam kosmologi Hindu Bali, alam semesta bergerak dalam irama kala—ada masa bergerak dan ada masa diam. Puncak keadaan diam tersebut terjadi pada Tilem Sasih Kasanga, ketika bulan berada pada titik paling gelap dan ...
Pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Hari Raya Nyepi merupakan praktik keagamaan Hindu Bali yang memiliki dimensi kosmis, ekologis, dan spiritual yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar hari libur atau simbol identitas budaya, melainkan sebuah peristiwa sakral yang berkaitan langsung dengan ritme alam semesta (ṛta). Oleh karena itu, penentuan waktu pelaksanaannya harus diletakkan dalam kerangka wariga, tattwa, serta rujukan sastra suci Hindu Bali, bukan semata-mata kebiasaan administratif kalender. Dalam sistem wariga Bali, Sasih Kesanga dikenal sebagai sasih yang bersifat panas, labil, dan sarat dengan dominasi energi bhuta kala. Lontar Wariga Krimping dan Wariga Gemet secara konsisten menempatkan Sasih Kesanga sebagai masa ketika kekuatan bhuta gumelar , sehingga diperlukan upaya penyomyaan terhadap bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia). Dalam konteks inilah rangkaian Bhuta...