Nyepi: Belajar Diam Bersama Semesta Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas. Ia adalah latihan kesadaran . Dalam ajaran Hindu, Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, agar kembali mendengarkan suara semesta dan suara batin sendiri. Spiritualitas sejatinya adalah ilmu tentang ketepatan. Ketepatan berpikir, ketepatan bertindak, dan terutama ketepatan waktu (kala). Bila waktu tidak tepat, maka sebaik apa pun niat dan megahnya ritual, maknanya dapat bergeser. Inilah sebabnya para leluhur menempatkan Nyepi bukan sebagai tradisi sosial semata, tetapi sebagai peristiwa kosmis. Nyepi dan Irama Alam Lontar Sundarigama menyebutkan bahwa Tawur dan Nyepi dilaksanakan pada Tilem Kasanga , saat bulan berada pada titik paling gelap, tanpa cahaya. Dalam lontar disebutkan: “Mwah ri Tilĕming Kasangha… tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur mwang Nyĕpi sadintĕn.” Artinya, ketika Tilem Kasanga tiba, umat melaksanakan Taw...
Pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Hari Raya Nyepi merupakan praktik keagamaan Hindu Bali yang memiliki dimensi kosmis, ekologis, dan spiritual yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar hari libur atau simbol identitas budaya, melainkan sebuah peristiwa sakral yang berkaitan langsung dengan ritme alam semesta (ṛta). Oleh karena itu, penentuan waktu pelaksanaannya harus diletakkan dalam kerangka wariga, tattwa, serta rujukan sastra suci Hindu Bali, bukan semata-mata kebiasaan administratif kalender. Dalam sistem wariga Bali, Sasih Kesanga dikenal sebagai sasih yang bersifat panas, labil, dan sarat dengan dominasi energi bhuta kala. Lontar Wariga Krimping dan Wariga Gemet secara konsisten menempatkan Sasih Kesanga sebagai masa ketika kekuatan bhuta gumelar , sehingga diperlukan upaya penyomyaan terhadap bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia). Dalam konteks inilah rangkaian Bhuta...