Fondasi Sebelum Bicara Waktu Nyepi Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam menata kembali ketepatan ritual kita, kita tidak boleh melompat. Diskusi besar mengenai apakah Nyepi sebaiknya dilaksanakan saat Tilem atau saat Penanggal Apisan Sasih Kedasa adalah diskusi tahap kedua. Tahap pertama dan yang paling mendesak adalah: Menyepakati penetapan Hari Tilem Kesanga itu sendiri. Mengapa Tilem Kesanga Harus Selesai Dulu? Tilem adalah jangkar astronomis. Tanpa penetapan hari Tilem yang akurat sesuai konjungsi murni ( New Moon ), maka ritual Tawur Kasanga yang dilaksanakan pukul 12:00 siang akan kehilangan pijakan energinya. Berdasarkan data 2026–2035, kita memiliki masalah besar pada penetapan Tilem ini: DATA VALIDASI: URGENSI KOREKSI TILEM TAHUN 2026 Masalah: Kalender menetapkan Tilem 18 Maret. Fakta: Konjungsi baru terjadi 19 Maret (09:23 WITA). Urgensi: Selesaikan dulu, apakah Tilem tetap dipaksakan 18 Maret atau dikoreksi ke 19 Maret? ...
Mengapa Ketepatan Kosmik Adalah Harga Mati? Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Nyepi dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar hari tanpa aktivitas, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang berdiri di atas ketepatan waktu, kejernihan makna, dan keselarasan manusia dengan hukum alam semesta ( Ṛta ). Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan Nyepi dan Tawur Kesanga kini dibayangi oleh satu akar masalah utama: kekeliruan filologis dalam membaca, menyalin, dan menerjemahkan teks lontar kuno. Kesalahan ini tampak kecil pada tingkat kata, tetapi berakibat besar pada runtuhnya logika kosmologi ritual kita. 1. Krisis Filologis: Bahaya Salah Salin Teks Dalam beberapa salinan Lontar Sundarigama yang beredar, istilah-istilah kunci mengalami pergeseran makna karena penyalinan yang dilakukan secara fonetis (berdasarkan bunyi), bukan filologis. Dibuh Mute vs Dikupun: Dalam teks autentik, digunakan istilah Dibuh Mute yang berarti pembakaran tuntas atau pemralinaan total. Namun...