Mengapa Ketepatan Kosmik Adalah Harga Mati? Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Nyepi dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar hari tanpa aktivitas, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang berdiri di atas ketepatan waktu, kejernihan makna, dan keselarasan manusia dengan hukum alam semesta ( Ṛta ). Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan Nyepi dan Tawur Kesanga kini dibayangi oleh satu akar masalah utama: kekeliruan filologis dalam membaca, menyalin, dan menerjemahkan teks lontar kuno. Kesalahan ini tampak kecil pada tingkat kata, tetapi berakibat besar pada runtuhnya logika kosmologi ritual kita. 1. Krisis Filologis: Bahaya Salah Salin Teks Dalam beberapa salinan Lontar Sundarigama yang beredar, istilah-istilah kunci mengalami pergeseran makna karena penyalinan yang dilakukan secara fonetis (berdasarkan bunyi), bukan filologis. Dibuh Mute vs Dikupun: Dalam teks autentik, digunakan istilah Dibuh Mute yang berarti pembakaran tuntas atau pemralinaan total. Namun...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli