Agama sebagai Etika: Rekonstruksi Kesadaran di Atas Nafsu Kekuasaan I. Krisis Kesadaran di Ruang Publik Kegelisahan terbesar dalam kehidupan beragama kontemporer bukanlah defisit ritual, melainkan krisis kesadaran (Citta). Agama hadir secara masif dan riuh dalam simbol-simbol publik, namun seringkali terasa sunyi di relung batin. Banyak individu merasa cukup dengan identitas formal, tanpa benar-benar menapaki jalan pendakian spiritual. Di titik inilah, agama berisiko terdegradasi menjadi sekadar instrumen politik dan simbol kekuasaan. Hal ini mengingatkan kita pada pesan dalam Sarasamuccaya 39: "Kuneng laku ning dharmaning dadi wang, nitya kenakena i kabhaktian ring bhatara..." (Hakikat menjadi manusia adalah terus-menerus melakukan bakti kepada Tuhan dan menjalankan Dharma...) Maka, tanpa landasan etika (Dharma), agama hanya akan menjadi cangkang kosong yang mudah diisi oleh ambisi pribadi maupun kelompok. II. Dharma sebagai Fondasi Etik Bangsa Indonesia...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli