Kala di Apit Lawang dan Aling-Aling: Tatwa yang Sering Terlupa Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam tatanan arsitektur dan niskala Bali, apit lawang dan aling-aling bukanlah sekadar elemen bangunan atau estetika tradisi. Keduanya adalah ruang peralihan, ruang rawan, sekaligus ruang kerja Kala. Di sanalah energi luar dan dalam bertemu, bersilang, lalu ditata agar tidak saling melukai. Karena itu, memahami Kala di apit lawang dan aling-aling tidak bisa diletakkan pada logika pemujaan, melainkan pada kesadaran akan keseimbangan. Kala dalam ajaran Hindu Bali bukan pribadi yang dipuja seperti Dewa, melainkan hukum waktu dan energi kosmis yang bekerja pada batas-batas. Ia hadir ketika ada perubahan, peralihan, pintu, dan persimpangan. Apit lawang adalah mulut ruang, mukha bhuwana, tempat keluar-masuknya pengaruh desa, manusia, dan alam. Di titik inilah bekerja dua aspek Kala yang dikenal dalam pakem undagi dan tradisi lisan Bali, yaitu Kala Jaba dan Kala Dalem. Kala J...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli