Adat sebagai Pagar, Agama sebagai Cahaya: Mencari Keseimbangan yang Hilang Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam kebijaksanaan leluhur yang sunyi namun dalam, agama diturunkan bukan untuk memberatkan manusia, melainkan sebagai cahaya. Ia hadir sebagai penuntun batin, menerangi jalan kesadaran, memberi arah agar manusia tidak tersesat di tengah riuh dunia. Bersamaan dengan itu, lahirlah adat sebagai pagar—bukan untuk menutup cahaya, melainkan untuk menjaganya agar tetap menyinari kehidupan bersama, selaras dengan ruang, waktu, dan keadaan yang senantiasa berubah. Sejak awal, keduanya tidak pernah dimaksudkan untuk saling menundukkan. Agama memberi makna dan nilai universal, sementara adat mengatur cara nilai itu hidup dalam keseharian masyarakat. Keduanya adalah dua sisi dari kehidupan yang bermartabat: cahaya yang menerangi dan pagar yang melindungi. Namun, dalam perjalanan waktu, terjadi pergeseran yang nyaris tak terasa. Adat yang sejatinya berfungsi sebagai pagar p...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli