Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu. Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian . Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci: “Mwah ri tekaning Tilĕming Kasangha, tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur, mwang Nyĕpi sadintĕn.” Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tile...
catatan Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba, Giriya Kawan Apuan Bangli