Langsung ke konten utama

Postingan

Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026

​ Dikotomi Fakta dan Nilai: Membedah Realitas Astronomi Tilem Kesanga 2026 ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Dalam sebuah ruang kelas matematika, tidak pernah ada guru yang bertanya, "Anak-anak, ayo jawab dengan jujur, berapa lima tambah lima?" Pertanyaan itu terdengar konyol karena dalam sains dan logika, 5 + 5 = 10 bukan karena kita bersikap jujur, melainkan karena itu adalah faktual. Sains tidak butuh kejujuran moral; ia hanya butuh kebenaran objektif. Itulah sifat sains: ia apa adanya. ​ Sains Adalah Amoral: Dunia Tanpa Penghakiman ​Sains, pada intinya, adalah upaya manusia untuk memotret realitas tanpa melibatkan perasaan. Alam semesta bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat atau konsekuensi, bukan berdasarkan norma "baik" atau "buruk". ​Ambil contoh harimau yang memangsa kambing. Secara sains, yang terjadi hanyalah transfer energi biologis demi kelangsungan hidup. Tidak ada yang "jahat" dalam kejadian itu. Harimau tid...

Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian

​Menemukan Nurani dalam Adat: Memuliakan Kemanusiaan di Ambang Kematian ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kematian sejatinya bukan peristiwa yang mengotori kehidupan, melainkan bagian paling jujur dari kehidupan itu sendiri. Ketika seorang manusia mengembuskan napas terakhir, yang tersisa bukanlah cemar, melainkan sebuah raga yang telah menyelesaikan tugas baktinya di dunia. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali nurani berhadapan dengan tembok adat yang menegang. Seolah-olah kematian adalah sebuah "noda" yang harus segera dijauhkan agar kesucian sebuah ritual atau yadnya tidak terusik. ​Padahal, jika kita merenung dengan jernih, yadnya justru lahir untuk memuliakan kehidupan, bukan untuk menyingkirkan kemanusiaan. ​Kesetaraan dalam Pandangan Tat Twam Asi ​Sering terjadi ketimpangan rasa ketika kita memandang kematian. Di satu sisi, adat begitu keras menjaga jarak dengan jenazah manusia karena dianggap membawa kekotoran ( cemer ). Namun di si...

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI

MEMBACA ULANG PANGLANTALA KALENDER BALI: DARI EKA SUNSANG KE PAING MENUJU EKA SUNSANG KE UMANIS ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Kalender Bali adalah hasil refleksi panjang leluhur dalam membaca gerak kosmos. Ia tidak sekadar menghitung hari, tetapi menata ritme spiritual dan kehidupan umat berdasarkan peredaran matahari, bumi, dan bulan. Meski sakral, kalender ini bersifat hidup dan memerlukan penyelarasan ketika perhitungan tradisional mulai bergeser dari realitas astronomis. ​Panglantala adalah inti dari koreksi hari dalam kalender Bali. Selama ini, pola Eka Sungsang ke Paing digunakan untuk menentukan Tilem. Namun jika dibandingkan dengan fase new moon astronomi, terlihat selisih satu hari pada banyak tahun. Analisis satu putaran penuh 19 tahun (2013–2031) menunjukkan bahwa pola lama hanya mencapai akurasi sekitar 45%. ​Solusi yang tepat adalah pemajuan sistem Panglantala dari Eka Sungsang ke Paing menuju Eka Sungsang ke Umanis . Pergeseran ini menjaga agar ...

Fase Konjungsi (New Moon/Tilem):

Mengapa Ketepatan Kosmik Adalah Harga Mati? ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Nyepi dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar hari tanpa aktivitas, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang berdiri di atas ketepatan waktu, kejernihan makna, dan keselarasan manusia dengan hukum alam semesta ( Ṛta ). Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan Nyepi dan Tawur Kesanga kini dibayangi oleh satu akar masalah utama: kekeliruan filologis dalam membaca, menyalin, dan menerjemahkan teks lontar kuno. ​Kesalahan ini tampak kecil pada tingkat kata, tetapi berakibat besar pada runtuhnya logika kosmologi ritual kita. ​ 1. Krisis Filologis: Bahaya Salah Salin Teks ​Dalam beberapa salinan Lontar Sundarigama yang beredar, istilah-istilah kunci mengalami pergeseran makna karena penyalinan yang dilakukan secara fonetis (berdasarkan bunyi), bukan filologis. ​ Dibuh Mute vs Dikupun: Dalam teks autentik, digunakan istilah Dibuh Mute yang berarti pembakaran tuntas atau pemralinaan total. Namun...

MENGAPA KITA BERHENTI SAAT SEMESTA MENYALA?

Mengembalikan Detik Nol: Nyepi dalam Presisi Sastra dan Kosmologi ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Dalam keheningan malam-malam Bali, pernahkah kita merenung: mengapa Nyepi harus ada? Ia bukan sekadar tradisi tanpa alasan, bukan pula sekadar jeda dari hiruk-pikuk dunia. Nyepi adalah sebuah peristiwa kosmis, sebuah upaya manusia Bali untuk menyelaraskan napasnya dengan detak jantung alam semesta. Namun, untuk mencapai penyelarasan itu, kita membutuhkan satu hal: Presisi Waktu. ​Caru dan Nyepi: Antara Proses dan Titik Hening ​Sering kali kita terjebak dalam multitafsir yang mencampuradukkan antara ritual Tawur (Caru) dan Brata Penyepian . Dalam nalar sastra yang saya warisi, kedua hal ini bekerja pada fase yang berbeda. Lontar Sundarigama menyebutkan sebuah kunci: ​ “Mwah ri tekaning TilÄ•ming Kasangha, tÄ•ka wÄ•nang wong ing madhya ginawe tawur, mwang NyÄ•pi sadintÄ•n.” ​Mari kita bedah secara jernih. Ritual Caru atau Tawur bekerja pada fase "Tekaning Tile...

Pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali

Y Nyepi pada Tilem Kesanga dalam Tinjauan Kosmologi Hindu Bali Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Hari Raya Nyepi merupakan praktik keagamaan Hindu Bali yang memiliki dimensi kosmis, ekologis, dan spiritual yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar hari libur atau simbol identitas budaya, melainkan sebuah peristiwa sakral yang berkaitan langsung dengan ritme alam semesta (á¹›ta). Oleh karena itu, penentuan waktu pelaksanaannya harus diletakkan dalam kerangka wariga, tattwa, serta rujukan sastra suci Hindu Bali, bukan semata-mata kebiasaan administratif kalender. Dalam sistem wariga Bali, Sasih Kesanga dikenal sebagai sasih yang bersifat panas, labil, dan sarat dengan dominasi energi bhuta kala. Lontar Wariga Krimping dan Wariga Gemet secara konsisten menempatkan Sasih Kesanga sebagai masa ketika kekuatan bhuta gumelar , sehingga diperlukan upaya penyomyaan terhadap bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia). Dalam konteks inilah rangkaian Bhuta Yadnya, k...

Adat sebagai Pagar, Agama sebagai Cahaya: Mencari Keseimbangan yang Hilang

Adat sebagai Pagar, Agama sebagai Cahaya: Mencari Keseimbangan yang Hilang Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam kebijaksanaan leluhur yang sunyi namun dalam, agama diturunkan bukan untuk memberatkan manusia, melainkan sebagai cahaya. Ia hadir sebagai penuntun batin, menerangi jalan kesadaran, memberi arah agar manusia tidak tersesat di tengah riuh dunia. Bersamaan dengan itu, lahirlah adat sebagai pagar—bukan untuk menutup cahaya, melainkan untuk menjaganya agar tetap menyinari kehidupan bersama, selaras dengan ruang, waktu, dan keadaan yang senantiasa berubah. Sejak awal, keduanya tidak pernah dimaksudkan untuk saling menundukkan. Agama memberi makna dan nilai universal, sementara adat mengatur cara nilai itu hidup dalam keseharian masyarakat. Keduanya adalah dua sisi dari kehidupan yang bermartabat: cahaya yang menerangi dan pagar yang melindungi. Namun, dalam perjalanan waktu, terjadi pergeseran yang nyaris tak terasa. Adat yang sejatinya berfungsi sebagai pagar p...

Apit Lawang Dan Aling Aling

Kala di Apit Lawang dan Aling-Aling: Tatwa yang Sering Terlupa Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba  Dalam tatanan arsitektur dan niskala Bali, apit lawang dan aling-aling bukanlah sekadar elemen bangunan atau estetika tradisi. Keduanya adalah ruang peralihan, ruang rawan, sekaligus ruang kerja Kala. Di sanalah energi luar dan dalam bertemu, bersilang, lalu ditata agar tidak saling melukai. Karena itu, memahami Kala di apit lawang dan aling-aling tidak bisa diletakkan pada logika pemujaan, melainkan pada kesadaran akan keseimbangan. Kala dalam ajaran Hindu Bali bukan pribadi yang dipuja seperti Dewa, melainkan hukum waktu dan energi kosmis yang bekerja pada batas-batas. Ia hadir ketika ada perubahan, peralihan, pintu, dan persimpangan. Apit lawang adalah mulut ruang, mukha bhuwana, tempat keluar-masuknya pengaruh desa, manusia, dan alam. Di titik inilah bekerja dua aspek Kala yang dikenal dalam pakem undagi dan tradisi lisan Bali, yaitu Kala Jaba dan Kala Dalem. Kala J...

​Agama sebagai Etika: Rekonstruksi Kesadaran di Atas Nafsu Kekuasaan

​Agama sebagai Etika: Rekonstruksi Kesadaran di Atas Nafsu  Kekuasaan ​I. Krisis Kesadaran di Ruang Publik ​Kegelisahan terbesar dalam kehidupan beragama kontemporer bukanlah defisit ritual, melainkan krisis kesadaran (Citta). Agama hadir secara masif dan riuh dalam simbol-simbol publik, namun seringkali terasa sunyi di relung batin. Banyak individu merasa cukup dengan identitas formal, tanpa benar-benar menapaki jalan pendakian spiritual. Di titik inilah, agama berisiko terdegradasi menjadi sekadar instrumen politik dan simbol kekuasaan. ​Hal ini mengingatkan kita pada pesan dalam Sarasamuccaya 39: ​"Kuneng laku ning dharmaning dadi wang, nitya kenakena i kabhaktian ring bhatara..." (Hakikat menjadi manusia adalah terus-menerus melakukan bakti kepada Tuhan dan menjalankan Dharma...) ​Maka, tanpa landasan etika (Dharma), agama hanya akan menjadi cangkang kosong yang mudah diisi oleh ambisi pribadi maupun kelompok. ​II. Dharma sebagai Fondasi Etik Bangsa ​Indonesia...

Menemukan Kembali Dharma: Menggugat Agama yang Kehilangan Kesadaran

Menemukan Kembali Dharma: Menggugat Agama yang Kehilangan Kesadaran ​ Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba ​Tulisan ini kembali mengusik batin kita hariini dengan memotret sebuah realitas yang getir: di Indonesia, agama sering kali berhenti menjadi jalan kesadaran dan justru berubah menjadi instrumen kekuasaan, identitas yang kaku, serta ruang di mana nalar berhenti bekerja. Jika kita melihat kegelisahan ini dari kacamata filosofi Hindu Bali, kita akan menemukan bahwa kritik tersebut sesungguhnya adalah panggilan untuk kembali kepada hakikat Dharma . ​Agama: Antara Label dan Kesadaran Jnana ​Dalam masyarakat kita, sering kali "beragama" hanya dimaknai sebagai status administratif atau kepatuhan pada ritual yang mekanistik. Dalam tradisi Hindu Bali, ini disebut sebagai risiko terjebak dalam Gugon Tuwon —percaya dan ikut-ikut tanpa dasar pemahaman. ​Padahal, Hindu mengajarkan pentingnya Jnana Marga , yakni jalan pengetahuan. Agama seharusnya tidak membuat manu...

Banten: Jembatan Simbolik Antara Pikiran dan Tuhan dalam Hindu Bali

  Banten: Jembatan Simbolik Antara Pikiran Manusia dan Tuhan dalam Hindu Bali Oleh : Ida bagus Ngurah Semara Manuaba 1. Manusia dan Keterbatasan Pikiran Pikiran manusia tidak dapat mengenali sesuatu yang sepenuhnya tanpa bentuk. Waktu menjadi nyata ketika kita melihat jarum jam atau kalender. Cinta terasa melalui pelukan, tatapan, atau pengorbanan. Keadilan dipahami lewat timbangan yang seimbang. Kebebasan terasa kuat ketika kita melihat gerbang terbuka. Begitu pula dengan Tuhan. Tanpa mantra, nama suci, arca, atau tempat suci, Ia mudah terjebak dalam abstraksi yang sulit dijangkau oleh pikiran. Bukan karena Tuhan terbatas pada bentuk, tetapi karena kitalah yang terbatas . Nama dan bentuk adalah jembatan , bukan belenggu. 2. Tuhan dalam Bentuk: Saguna Brahman Hindu mengenal konsep Saguna Brahman —Tuhan yang mengambil bentuk agar dapat dirasakan. Siwa, Vishnu, Durga, Ganesha bukan sekadar tokoh mitologis, melainkan wujud-wujud yang membantu pikiran manusia memusatkan bh...

Rahasia Pikiran Bawah Sadar dan Pikiran Super Sadar

Rahasia Pikiran Bawah Sadar dan Pikiran Super Sadar Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba > “Manah eva manushyanam karanam bandhamokshayo.” Pikiran adalah penyebab keterikatan sekaligus pembebasan manusia. — Bhagavad Gita, VI.5 Pernahkah anda merasa ada sesuatu yang mengendalikan keputusan anda tanpa disadari? Sebuah dorongan halus yang muncul begitu saja — membuat anda berkata, “entah mengapa aku begini,” padahal logika tidak menemukan jawabannya. Itulah kekuatan pikiran bawah sadar , wilayah senyap dalam diri yang menyimpan hampir sembilan puluh persen aktivitas mental manusia. Di ruang batin itu tersimpan kebiasaan, emosi, trauma, dan keyakinan yang membentuk arah hidup seseorang. Rasa takut yang muncul tanpa sebab, kebiasaan yang sulit diubah, bahkan kecenderungan hidup yang terus berulang — semuanya berakar dari isi pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar bekerja seperti mesin autopilot. Ia menjalankan program yang kita tanam di dalamnya tanpa perlu perintah sadar...

Antara Pintar dan Bijak

Antara Pintar dan Bijak Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Ada orang yang disebut pintar, dan ada manusia yang sungguh-sungguh bijak. Keduanya kerap disamakan, padahal dalam kehidupan nyata perbedaannya terasa sangat jelas, bahkan tanpa harus diucapkan. Orang pintar biasanya dikenali dari kecakapannya membaca situasi, memahami aturan, dan menyusun strategi. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus melangkah demi kepentingannya. Namun kecerdasan semacam ini sering berjalan beriringan dengan perhitungan berlebihan. Setiap langkah ditakar untung-ruginya, setiap relasi diukur manfaatnya. Tanpa disadari, kehadirannya justru membuat orang lain merasa kecil, rendah, atau tidak nyaman. Bukan selalu karena niat merendahkan, melainkan karena ego terlalu sering berdiri di depan, menutupi empati. Orang pintar juga kerap sibuk mengkritik keadaan. Lingkungan, sistem, bahkan manusia lain tampak salah bila tidak sejalan dengan pikirannya. Kesalahan orang lain terli...

Jejak yang Tak Pernah Padam

Susila (Adab): Jejak yang Tak Pernah Padam Jangan dikira kemuliaan lahir dari bangku sekolah, dari gelar yang berbaris di belakang nama, atau dari suara yang fasih menghias ruang publik. Ilmu mampu mempertajam kecerdasan, tetapi hanya Susila (adab) yang memurnikan jiwa. Dan jiwa yang murni adalah anugerah paling tinggi yang dapat diraih manusia dalam perjalanan hidupnya. Dalam tradisi tattwa Bali, Susila diibaratkan cahaya halus yang tidak tampak mata, tetapi terasa oleh hati. Ia lahir dari pengalaman yang ditempa, kesabaran yang diuji, serta perenungan yang tak pernah putus. Tidak semua orang yang mampu berbicara indah memiliki laku yang indah; tetapi siapa pun yang menjaga Susila akan selalu menjaga kedamaian di mana pun langkahnya berada. Sarasamuccaya menegaskan dalam sloka 79: “Yan tan wruh ring subha-asubha-karma, ndatan dadi sira amolahakena wwang.” (Seseorang yang tidak memahami baik dan buruk, tidak pantas menilai orang lain.) Kutipan ini mengajarkan bahwa Susila ...

SAAT HENING BERBICARA

SAAT HENING BERBICARA Pendahuluan: Mengingat Kembali Jati Diri Dalam perjalanan hidup, kadang seseorang merasa sudah menjalani banyak hal—sembahyang, ritual, upacara—namun kedamaian belum benar-benar tiba. Ada ruang hening di dalam diri yang belum disentuh. Kita berlari dari satu yadnya ke yadnya lain, tetapi tidak selalu berhenti untuk memahami apa yang bergerak di dalam batin. Kearifan Hindu Bali sejatinya sudah menuntun manusia untuk tidak kehilangan jati diri. Ajaran tentang Antahkarana Catur, prana, serta kedalaman manah sering kali lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada yang disadari. Ilmu modern seperti neurosains kini justru memperkuat apa yang telah lama diwariskan para leluhur. Di titik pertemuan inilah, sains dan dharma tidak saling meniadakan, melainkan saling menerangi.[¹] Antahkarana Catur: Peta Batin yang Selalu Relevan Empat instrumen batin yang dijelaskan dalam ajaran Hindu bukan sekadar istilah kuno, tetapi gambaran nyata mekanisme batin manusia...

Neurosains: Jalan Panjang Kesadaran, Otak, dan Kelahiran Kembali di Dalam Diri

Samsara dan Neurosains: Jalan Panjang Kesadaran, Otak, dan Kelahiran Kembali di Dalam Diri Oleh : Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Ada satu pertanyaan yang sejak dahulu menggelitik hati manusia: Apakah hidup ini benar-benar bergerak lurus, ataukah ia berputar, berulang, dan melahirkan dirinya kembali? Dalam tradisi Hindu, Buddha, dan spiritualitas Nusantara, jawabannya telah lama dirangkum dalam satu kata: samsara—siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang tidak pernah berhenti. Namun, di abad modern ini, neurosains menemukan sesuatu yang tidak berbeda jauh: otak ternyata hidup dalam siklus. Ia lahir, tumbuh, berubah, membentuk pola, menghancurkan pola, lalu membangun pola yang baru. Di dalam jaringan neuron manusia, samsara berlangsung setiap hari. Di dalam ingatan, trauma, kebiasaan, dan cara kita bereaksi, terdapat siklus berulang yang sangat serupa dengan konsep yang diajarkan para resi ribuan tahun silam. Artikel ini mencoba menyatuka...

Yajna Sattwika

Yajna Sattwika: Integrasi Kearifan Hindu Bali, Neuroplasticity, dan Strategi Pencegahan Kemiskinan Oleh: Ida Bagus Ngurah Semara Manuaba Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang semakin dipenuhi materialisme, tradisi Hindu Bali masih memancarkan cahaya jernih tentang keseimbangan. Yajna—pengorbanan suci yang menjadi inti spiritualitas Bali—bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme hidup untuk menjaga harmoni diri dan semesta. Ironinya, yajna yang dilakukan tanpa kesadaran dapat menjadi gerbang kemiskinan, sedangkan yajna yang dijalankan dengan pemahaman Sattwika justru berdiri sebagai benteng kesejahteraan. Bhagavad Gita Bab 17 menjelaskan tiga wajah yajna: rajasika yang digerakkan gengsi , tamasika yang lahir dari kelalaian , serta sattwika yang murni dan tulus. Ketiganya bukan sekadar kategori spiritual, tetapi cermin dari cara manusia mengelola artha , pikiran , dan energi hidupnya. Ketika Tri Hita Karana—harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam—diterapkan dal...